Selasa, 29 Mei 2012

Ramai Pemuda Muslim Tunisia Ke Medan Jihad Syria Melawan Rejim Bashar al Assad


Yang pertama didengar oleh seorang guru sekolah di Tunisia, Mokhtar Mars bahwa adiknya telah meninggal dunia dalam sebuah pertempuran bersama pejuang bersenjata, dari nomer asing yang menghubunginya. "Kami mendapat panggilan dari nomer tak dikenal, memberitahu kami bahwa dia telah martir. Hanya tiga kata. Kami mencoba untuk menghubungi kembali tetapi tidak ada jawaban," ujar Mars (40), duduk di matras samping dinding di kamar adik termudanya. "Panggilan terakhir kami dapatkan darinya pada Februari lalu dari Libya. Dia mengatakan sedang berada di sana untuk belajar.... Kemudian semua kontak kami patah. Kami mencoba menghubungi nomer yang digunakannya tetapi tidak ada jawaban." Hossein Mars (34) adalah satu dari sedikinya lima pemuda Tunisia yang berasal dari kota Ben Guerdane di perbatasan Libya, yang diyakini telah syahid di Suriah. Dua dari keluarga mereka setuju untuk diwawancarai oleh media, seperti yang dilakukan keluarga seorang pria keenam dari kota yang sama yang hingga kini nasibnya tidak diketahui.

Keluarga-keluarga itu biasanya menerima panggilan dari anak-anak di Suriah atau dari orang asing yang tak mereka kenal yang mengatakan bahwa anak-anak mereka telah syahid (insha Allah). Meskipun keluarga tidak melihat ada bukti mayat atau bukti kematian lainnya, sebuah video yang memperlihatkan bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid telah muncul di Facebook memuji lima pria asal Tunisia dan menyatakan bahwa mereka telah terbunuh dalam pertempuran di Homs, sebuah tempat yang menjadi saksi pemboman terburuk oleh pasukan Bashar al Assad.

Utusan Suriah untuk PBB mengatakan bahwa 26 pejuang Arab telah ditangkap dan "mengaku" simpatisan Al Qaeda. Utusan yang lainnya untuk PBB mengatakan 19 dari 26 orang yang ditangkap adalah warga Tunisia.Suriah menjadi magnet bagi para pemuda Muslim dari seluruh dunia yang ingin terjun ke medan Jihad baik di Irak maupun Afghanistan. Setidaknya seorang pemuda Muslim di Ben Guerdene mengatakan kepada Reuters bahwa dia sendiri siap untuk pergi dan berperang di Suriah. Keluarga Muslim Tunisia mengatakan bahwa mereka adalah Muslim Sunni yang taat dan sangat sedih dengan apa yang diderita oleh Muslim Sunni di tangan pasukan rezim Alawite pimpinan Assad. "Apa yang kami saksikan di televisi tidak bisa membuat senang seorang Muslim....seorang tentara membunuh rakyatnya. Tidak ada yang bisa menerima ini," ujar Mokhtar Mars. Daftar pejuang asing di Suriah yang ditangkap menunjukkan bahwa para pemuda Tunisia telah pergi untuk berperang di Suriah. Video di Facebook menunjukkan pujian untuk para pemuda Tunisia khususnya dari Ben Guerdene. Kota itu memiliki sejarah pengiriman relawan untuk konflik Irak juga.

Warga Ben Guerdene yang hidup dari berdagang, menampilkan secara lahiriah semangat keagamaan mereka dan mereka telah menyebar sejak pemberontakan Tunisia tahun lalu yang menggulingkan pemimpin Zine al-abidine Ben Ali, mengatakan bahwa pemuda lebih mungkin secara diam-diam pergi menyelinap untuk bergabung dengan perjuangan bersenjata untuk menggulingkan Assad. Pejuang asing Rezim Syiah Alawite pimpinan Assad sejak awal pemberontakan sering melukiskan plot oleh pejuang asing dan Al Qaeda. Mereka juga menuduhkan pemboman yang menewaskan banyak sipil Suriah kepada kelompok "teroris". Pada bulan Februari, amir Al Qaeda, Syeikh Ayman az-Zawahiri mendesak ummat Islam untuk datang membantu perjuangan Suriah. Seruan tersebut diikuti oleh laporan dari Irak yang menyatakan bahwa para pejuang asing dan senjata telah merembes masuk ke Suriah.

Rusia, yang mendukung rezim Assad dan sebagai suplier utama persenjataan, mengklaim pada Maret lalu bahwa Assad memerangi Al Qaeda yang telah mengirimkan sedikitnya 15.000 pejuang asing dan menuduh Libya menjalankan pusat pelatihan. Pria Muslim yang taat Keluarga dari para pemuda Muslim dari kota Ben Guerdene mengatakan mereka adalah Muslim Sunni yang taak yang menghabiskan banyak waktu untuk beribadah. Setidaknya dua dari mereka, termasuk Hossein Mars, telah menghabiskan waktu di penjara di bawah presiden Ben Ali yang didakwa diduga terkait "radikal Islam", ujar keluarga mereka. Setidaknya Muhammad Lafi (26) dipenjara setelah mencoba untuk masuk ke Irak melalui Suriah, keluarganya mengatakan. Dia kemudian pergi ke Aljazair, di mana dia ditangkap dan dikirim kembali ke Tunisia. Ia dipenjara selama tiga tahun dan dibebaskan pada tahun 2010.

Para pemuda itu telah berbicara kepada keluarga mereka tentang keinginan mereka untuk Jihad dan mati sebagai syuhada tetapi tidak mengatakan apapun secara spesifik, sebelum melakukan perjalanan ke Suriah. Walid Hilal telah menghilang sejak 24 Februari, ketika ia mengatakan kepada keluarganya bahwa ia akan ke ibukota untuk sebuah turnamen kung fu. Pria berusia 21 tahun itu telah mendalami olahraga tersebut sejak setahun terakhir. "Anak saya martir. Dia tidak melakukan kesalahan dan saya tidak khawatir tentangnya," ujar Mabrouka ibunya duduk di samping suami dan seorang anaknya yang lain. Dia pernah berkata "Aku akan pergi untuk berjihad dan ibu tidak perlu menangis," tetapi saya tidak pernah menganggapnya serius. Ponsel walid tidak bisa dihubungi sejak ia pergi. Seperti keluarga Mars, keluarga Hilal juga menerima telepon misterius dari sejumlah pria Suriah pada 17 April lalu yang mengatakan Walid telah syahid. "Setelah dua hari, ketika dia tidak menjawab telepon, kami menemukan teman-temannya juga menghilang dan telepon mereka juga tidak bisa dihubungi.

Kami merasa sesuatu telah terjadi dan kami mendengat bahwa beberapa dari mereka menelepon orang tua mereka dari Turki dan mengatakan mereka pergi ke suriah," ujar Taher Hilal. "Yang kami tahu dia telah martir, tetapi bagaimana dan mengapa kami tidak memiliki gambar dan bukti."Keluarga mengatakan anak-anak mereka tidak terlibat dengan partai politik, namun mengikuti perkembangan berita di Suriah. "Dia suka sholat dan puasa. Sejak masih kecil ia taat beragama," ujar ibu Lafi sambil menyeka air mata dengan kerudungnya. "Dia selalu ingin mati syahid." Berbeda dengan keluarga Mars dan Hilal, keluarga Lafi tidak menerima panggilan telepon misterius, tetapi anak tertua mereka menghubungi mereka dari nomer telepon Suriah.

Sumber : (haninmazaya/arrahmah.com)

Rabu, 23 Mei 2012

Kisah Buya Hamka Dan Si Damir

Ketika kami dalam perjalanan dari Suliki iaitu tempat domisilinya Gabenor Militer dan Pusat Pemerintahan darurat, menuju Maninjau, kami lalu disebuah desa yang namanya Palembayan. Orang kampung menyambut kedatangan Buya Hamka. Kami tinggal beberapa malam, ayah memberikan penerangan dan mengobarkan semangat rakyat melawan Belanda. kebetulan kedatangan kami bertepatan dengan saat mereka menuai padi. Nah ini dia kesempatan kami mahu makan seperti 'engku lebai', fikir saya dan memang kami pun menikmati hidangan-hidangan enak, hidangan orang pulang padi.

Waktu pulang orang kampung memberikan kepada kami beberapa liter beras untuk dibawa pulang. Masing-masing kami dibebani dengan beras yang meskipun mengangkat pertama terasa enteng, namun bila dipikul terus dalam perjalanan yang memerlukan waktu sehari penuh, tentu sangat menyeksa kami.

Saya sangat segan membawanya, tetapi ayah memelototkan matanya kerana berdosa menolak pemberian orang. Kami pun berangkat bertiga dengan Ihsanuddin Ilyas. Belum lima ratus meter, kami sudah berhenti istirehat, apalagi bila mendaki gunung. Kami berhenti sejenak memandang tingginya pendakian yang bakal ditempuh. Dalam saat itulah seorang laki-laki yang belum kami kenal muncul diantara kami.

"Apa khabar Buya, mahu kemana buya, dari mana Buya", tanyanya bertubi-tubi menyebut Buya, Buya, Buya. "Namo ambo Damir dari kampung anu. Mari saya bantu membawakan beban Buya", katanya menawarkan pertolongannya.

Si Damir orang memang agak lucu, kulitnya putih dengan wajah kemerah-merahan dan pendek kurus. Ketawanya mengakak lengking dan pecinya sedikit kebesaran.

"Terima kasih atas bantuan sutan", jawab ayah seraya memberikan bebannya. Kami pun melangkah mendaki bukit yang cukup tinggi dan Damir yang rupa-rupanya sudah mengenali situasi medan dengan lincah mendahului kami. Makin lama, Damir makin jauh lalu saya berteriak kuat-kuat; "Mak Damiiiiirrrr!" Dari jauh kedengaran jawab; "Ooooooiiii".

Kami berjalan terus, makin lama beras dibahu saya semakin menekan, lalu kami berhenti membahagi dua beban itu, setengahnya dimasukkan ke dalam bungkusan ayah dan setengahnya lagi saya bawa, sedang beras yang tadi dibawa ayah telah diambil oleh Damir yang baik itu.

Tak lama kami tiba disuatu pondok tempat orang mengilang tebu, untuk dijadikan gula model Lawang yang berwarna coklat kemerahan. Damir telah lebih dulu menunggu. Dan dia lebih dulu pula melepaskan dahaganya. Kami pun duduk istirehat sambil memperhatikan jalannya kilangan tebu yang ditarik oleh seekor kerbau itu. Sewaktu akan berangkat, ayah bertanya kepada tukang kilang itu berapa harga air tebu yang kami minum. orang itu menghitung hasilnya; ayah, Ihsan dan saya minum dua mangkuk, mangkuknya dari tempurung kelapa. Tapi Damir minum 5 mangkuk. Ayah menyeluk kantungnya. Dan kami pun melanjutkan perjalanan.

"Lah litak Buya", tanya Damir menanyakan apakah ayah sudah lapar. "Benar', jawab ayah, dan saya serta Ihsan pun merasakan hal yang sama. Hari itu kira-kira pukul 12 siang, Damir memberikan keterangan bahawa tak jauh dari situ ada warung yang enak, gulai ayamnya selalu panas dan nasinya pun nikmat kerana selalu memasak beras baru. Mendengar cerita Damir, perut pun semakin litak.

Kami sampai diwarung itu dan dengan agak kurang sabar memesan makan dan minum. Damir yang punya pengalaman dengan suara keras memesan makanan. Tapi lebih dahulu ia bertanya pada ayah;"Kopi Buya", tanyanya dan ayah mengangguk. "Hei kopi dua", kata Damir kepada yang punya warung, satu untuk ayah dan satu lagi untuknya.

"Tambah nasinya Buya', ayah mengangguk lalu Damir berteriak lagi; "Tambah dua", dua piring tambah itu, satu untuk ayah dan satu lagi untuk Damir. Damir melihat pada saya dan Ihsan, rupanya kami berdua dilihatnya kurang banyak mengambil gulai, maklum kami tahu wang yang ada dalam poket ayah adalah untuk diberikan pada ummi yang menanti. "Hei, kenapa tidak pakai gulai, tambah gulainya ya" kata Damir, sebelum saya menjawab, Damir telah berteriak "Tambah gulai", gulai yang diminta pun datang tapi lebih dahulu Damir mengisi piringnya.

Saya dan Ihsan, juga ayah diam saja menyaksikan gerak geri Damir yang serba cepat makannya. Dan mulutnya tak berhenti berteriak-teriak sambil mengunyah nasi. Sekali-sekali dia berdiri menjangkau petai yang tergantung dan menyambar sambal yang memang selalu berpindah-pindah tempat.

Selesai makan, Damir masih sempat meminta pisang dan berteriak lagi tambah dua gelas kopi, satu untuk ayah dan satu lagi untuk dirinya sendiri, "kopi dua". Perut kami memang lapar hari itu dan makan pun seperti kata Damir memang nikmat sekali, oleh sebab itulah saya dan Ihsan membiarkan saja berbagai-bagai permintaan Damir.

"Berapa semua", tanya Damir kepada yang punya warung sambil berdiri siap-siap hendak berangkat. Saya lupa berapa harga makanan yang masuk perut Damir. Yang punya warung menghitung lama sekali dan kemudian menyebut sesuatu jumlah yang terasa agak mahal. Tapi kami semua tenang saja kerana Damir sudah berdiri lebih dahulu, kami kira dialah yang akan membayar. "Seratus semua", jawab orang warung. Damir tahu-tahu memandang kepada ayah dan meneruskan ucapan pemilik warung itu: "Seratus semua Buya", dia lalu mengangkat bebannya dan terus melangkah mendahului kami.

Saya lihat ayah menghitung-hitung kembali wang yang harus dikeluarkannya, yang barangkali menimbulkan penyesalan dalam hatinya. Saya ingat ummi dan adik-adik menyesal kerana makan lupa pada nasib mereka yang barangkali makan ubi sekali sehari selama kami tinggalkan. Ketika meninggalkan warung itu, ayah, ihsan dan saya tak banyak lagi berbicara.

Cerita tentang Damir belum selesai atau kalau diselesaikan cukup membikin hati sangat sedih. Sebelum kami menurun kampung Maninjau, Damir yang telah mendahului kami kelihatan duduk di sebuah pondok dekat sungai yang banyak batu-batunya. "Ada apa Damir?" tanya ayah. "Sakit perut", jawabnya. Dia kemudian mempersilakan kami berjalan duluan. Katanya dia akan membongkar isi perutnya disungai itu.

Kami pun berjalan menurut kehendak Damir. Setelah lama berjalan, Damir belum juga kelihatan menyusul, berkali-kali kami melihat ke belakang, Damir tak kunjung nampak. Tapi perjalanan diteruskan, langkah kami pun semakin kencang ingin cepat sampai dirumah kerana kampung telah kelihatan.

Setiba kami dikampung, anak-anak kecil berteriak: "Buya Hamka pulang, Buya Hamka pulang", dan orang-orang kampung keluar menyambut kedatangan kami. Beban-beban kami dibantu membawakan. Ummi berdiri didepan pintu dengan senyum bahagia.

Dalam suasana gembira itu kami lupa pada Damir. Barulah setelah segala beban yang dibawa dibuka bersama, ayah teringat pada Damir, Ihsan disuruh menyusul kalau-kalau tak tahu letak rumah kami. Tapi Damir tak kelihatan. Sampai matahari tenggelam Damir tak juga datang. Besok paginya pun Damir masih belum sampai-sampai juga.

Adapun beras yang dibawanya tak kurang dari 40 liter, bererti kami boleh makan selama sepuluh hari. Orang yang tak punya "Damir"(hati nurani itu lambat laun kami lupakan atau terlupakan.

Sumber : Hamka Pujangga Islam Kebanggan Rumpun Melayu Menatap Peribadi Dan martabatnya Oleh H. Rusydi Hamka m/s 98-103

Jumaat, 11 Mei 2012

Perintah Mengucapkan Selawat Dan Salam Bagi Orang Yang Mendengar (Disebutkan) Nama Nabi saw


Hadis No. 336 (Sahih) Kami telah meriwayatkan dalam kitab at-Tirmizi dari Abu Hurairah ra, bahawa Rasulullah saw pernah bersabda : "Terhina (celaka)lah seseorang yang apabila namaku disebut dihadapannya, tetapi ia tidak berselawat untukku" Imam at-Tirmizi mengatakan : Hadis ini hasan. Nota : Sahih kitab al-azkaar wa dhaiifuhu, Syeikh Salim al-Hilali no.241. hadis ini sahih lighairihi. Diriwayatkan oleh at-Tirmizi (3613), Ahmad (II/254) dan al-Hakim (I/549) dari jalan Abd. Rahman bin Ishak dari Said bin Abi Said al-Maqbari dari Abu Hurairah ia berkata: "Telah bersabda Rasulullah saw (lalu iamenyebutkannya)". Berkata at-Tirmizi : "Hadis ini hasan gharib". Saya(Syeikh Salim al-Hilali) berkata: "Benar apa yang ia katakan, tetapi hadis ini memiliki beberapa syahid(penguat) dari sekelompok Sahabat yang dapat mengangkatnya ke derajat Sahih".

Sumber : Sahih Dan Dhaif Kitab al-Azkar Imam an-Nawawi ditahqiq oleh Syeikh Salim Bin Ied al-Hilali mukasurat 377 jilid 1