Sabtu, 31 Disember 2011

Adakah Syiah Imamiyyah Ithna Asyariyyah Adalah Rafidhah?



Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata "Aku bertanya ayahku (Imam Ahmad), Siapakah Rafidhah? Beliau menjawab "Orang yang memaki hamun Abu Bakar dan Omar ra". (As-Sharimu al-Maslul 'ala Syatimi ar-Rasul, hal. 567)

Rafidhah adalah satu golongan pelampau yang menganut fahaman-fahaman yang bertentangan sama sekali dengan ajaran Islam. Diantara fahaman dan ajaran mereka ialah:-

1. Al-Quran yang ada hari ini ialah al-Quran yang sudah ditokok tambah dan diselewengkan.

2. Sahabat-sahabat Rasulullah saw telah murtad sepeninggalan Baginda saw.

3. Hadis-hadis yang boleh diterima hanyalah hadis-hadis yang diriwayatkan daripada Imam-Imam Ahlul Bait menurut saluran mereka sahaja. Hadis-hadis yang diriwayatkan oleh kebanyakan Sahabat termasuk isteri-isteri Rasulullah saw adalah tertolak kerana mereka telah murtad selepas kewafatan Rasulullah saw dan kerana mereka telah banyak mencipta hadis-hadis palsu.

4. Raj'ah iaitu kepercayaan bahawa Imam-Imam akan dihidupkan semula sebelum qiamat untuk menghukum orang-orang yang telah merampas hak-hak mereka (Ahlul bait) dan telah menganiayai mereka termasuk saidina Abu Bakar, Omar, Osman, Aisyah, Muawiyyah dan lain-lain sahabat.

5. Imamah atau walayah iaitu kepercayaan bahawa Imam-Imam dilantik dan ditentukan oleh Allah swt. Imamah adalah salah satu rukun Iman, sesiapa yang tidak percaya kepada rukun ini tidaklah ia termasuk ke dalam golongan orang-orang mukmin.

6. Ismah iaitu kepercayaan bahawa semua Imam adalah maksum (terpelihara daripada dosa-dosa sama ada besar atau kecil). Imam-imam itu juga tidak bersalah atau tersilap didalam tindak tanduknya.

7. Al-Baraa'ah atau Tabarri iaitu kepercayaan berlepas diri dan memutuskan hubungan kasih sayang dengan semua khalifah-khalifah senelum Ali ra iaitu Abu Bakar, Omar dan Osman ra.

8. Ghaibah iaitu kepercayaan tentang adanya Imam yang lenyap dan akan kembali ke dunia setelah dunia ini dipenuhi oleh kezaliman dan kekacauan dengan membawa keadilan pemerintahannya.

9. Taqiyyah iaitu kepercayaan menyembunyikan fahaman yang sebenarnya dan melahirkan yang lain daripada apa yang ada didalam hati. Taqiyyah juga merupakan satu ciri keimanan bagi orang-orang Syiah.

10. Mut'ah (kahwin Kontrak) dan lain-lain kepercayaan dan fahaman yang sama sekali tidak ada kena mengenanya dengan agama Islam.

Lantaran kepercayaan mereka yang menyeleweng dan tersasul begitu jauh sekali dari ajaran Islam yang sebenarnya maka kita dapati ulama'-ulama' Islam sejak dahulu hingga sekarang menentang sekeras-kerasnya segala ajaran dan fahaman yang dibawa oleh mereka. Ulama' Islam telah menggambarkan golongan Rafidhah ini dengan seburuk-buruk gambaran malah telah mengeluarkan mereka dari agama Islam yang suci murni.

Sumber : Syiah Rafidhah Diantara Kecuaian Ulama' dan Kebingungan Ummah oleh Muhammad Asri Yusoff halamam 17-18.

Ahad, 4 Disember 2011

Ikhwan Tegaskan Kembali Tidak Akan Paksakan Syariat Islam di Mesir



Sayap politik Ikhwanul Muslimin, muncul sebagai pemenang terbesar dalam putaran pertama pemilihan parlemen, dan mereka berusaha meyakinkan warga Mesir pada Sabtu kemarin (3/12) bahwa mereka tidak akan mengorbankan kebebasan pribadi dalam mengkampanyekan syariat Islam.

Wakil kepala partai Kebebasan dan Keadilan, Essam el-Erian, kepada Associated Press dalam sebuah wawancara telepon menegaskan bahwa kelompoknya tidak tertarik dalam usaha untuk memaksakan nilai-nilai Islam di Mesir, yang juga rumah bagi minoritas Kristen yang cukup besar.

"Kami mewakili partai Islam yang moderat dan adil," kata el-Erian. "Kami ingin menerapkan dasar-dasar hukum Syariah secara adil yang menghormati hak asasi manusia dan hak-hak pribadi," katanya menegaskan.

Komentar-komentar ini merupakan indikasi paling jelas bahwa Ikhwan berusaha menjauhkan diri dari Partai Salafi An-Nur, yang menjadi pemenang kedua pada tahap pertama pemilu.

Ikhwan baru-baru ini membantah dalam sebuah pernyataan bahwa mereka berusaha untuk membentuk aliansi dengan Partai An-Nur di parlemen, dengan menyebutnya sebagai prematur dan hanya spekulasi media.

Pada hari Sabtu kemarin, el-Erian menegaskan bahwa Ikhwan tidak berbagi aspirasi dengan partai An-Nur yang lebih keras untuk secara ketat menegakkan aturan-aturan Islam dalam kehidupan sehari-hari rakyat Mesir.

"Kami menghormati semua orang dalam memilih agama dan kehidupan mereka," kata el-Erian.(fq/ap)

Sumber : http://www.eramuslim.com/

Khamis, 1 Disember 2011

Muslim Sanjak



Apa hubungan antara Turki dengan Serbia? Bertahun-tahun, Muslim Serbia terpecah menjadi dua kelompok besar, dan sekarang Turki hadir untuk mengakhiri perpecahan antara dua kelompok itu.

"Ini adalah isu-isu kontroversial yang telah lama dibahas di Serbia, di Sandzhak," kata Menteri Luar Negeri Turki Ahmet Davutoglu.

Mengapa Sandzhak? Sandzhak adalah wilayah historis yang terbentang sepanjang perbatasan antara Serbia dan Montenegro.

Muslim di Sandzhak terbagi antara dua kelompok; Komunitas Islam Serbia dan Masyarakat Islam di Serbia. Apa bedanya? Dipimpin oleh Muammer Zukoric, Komunitas Islam Serbia memiliki hubungan dekat dengan Grand Mufti Bosnia Herzegovina, sedangkan kelompok lain, dipimpin oleh Adem Zilkic, yang didukung oleh Beograd.

Perpecahan antara dua kelompok Muslim ini memicu kekhawatiran akan destabilisasi wilayah dan ketegangan antara Serbia dan Bosnia dan Herzegovina, yang merupakan bekas Yugoslavia. Apalagi Serbia dan Bosnia mempunyai sejarah kelam yang panjang akan pembantaian Muslim.

"Bukan solusi satu malam yang sedang dicari, tapi iklim kesepakatan yang muncul," kata Davutoglu, yang mengadakan pembicaraan dengan pihak Serbia, Presiden Boris Tadic dan Menteri Luar Negeri Vuk Yeremic.

"Kami ingin menyelesaikannya dalam waktu singkat."

Nama Sandzhak berasal dari Sanjak dari Novi Pazar, sebuah distrik administrasi zaman kekaisaran Ottoman sampai Perang Balkan 1912.

Nama ini juga merupakan transkripsi Slavia lokal, yang secara harfiah berarti "bendera" atau "panji nasional " yang digunakan sebagai istilah yang mewakili "provinsi" atau kabupaten ".

Harapan Tinggi

Turki sendiri telah menggelar pertemuan-pertemuan antara para pemimpin agama di Balkan dan kepala Direktorat Urusan Agama Turki Mehmet Gormez terus membantu mengakhiri keretakan-keretakan yang ada.

"Kami harus bekerja dengan sabar," kata Davutoglu.

"Pekerjaan kami bertujuan untuk menemukan kesamaan di mana pandangan-pandangan yang berbeda dapat menyatu bersama-sama."

Inisiatif Turki ternyata disambut oleh Beograd.

"Saya harap kesatuan di Sandzhak akan muncul dari persahabatan antara Turki dan Serbia," kata Davutoglu.

"Kami akan terus bekerja dengan Serbia. Kami meninggalkan Beograd dengan kesan positif," katanya.

"Kami berusaha untuk menyalurkan masalah ini menjadi sesuatu yang lebih positif. Ini jenis masalah yang mempunyai akar, tetapi sebagian besar dari masalah-masalah ini bersifat psikologis. "

Serbia memiliki minoritas Muslim hampir setengah juta orang, sebagian besar etnis Bosnia dan Albania.

Bekas Yugoslavia ini pecah dalam serangkaian perang sipil yang mematikan.

Perang ditandai dengan kejahatan perang massal dan pembersihan etnis (Muslim), yang memuncak dengan perang Bosnia pada tahun 1992.

Setidaknya 200.000 orang tewas dan ribuan dipaksa mengungsi dari rumah mereka dalam perang 1992-1995, yang dipicu oleh pecahnya bekas Yugoslavia.

Hampir 20.000 wanita Muslim secara sistematis diperkosa selama perang.

Dan rakyat Bosnia menyatakan bahwa Serbia adalah dalang "pembersihan etnis" Muslim Bosnia dan Kroasia selama perang itu.

Akankah mulai tahun 2011 dan seterusnya, pembantaian Muslim Bosnia itu terlupa karena Turki? (sa/onislam)

Sumber : http://www.eramuslim.com

Isnin, 21 November 2011

Penjelasan Status Hadith: Barangsiapa Menyerupai Sesuatu Kaum



Matan Hadith:


َمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa menyerupai suatu kaum bererti ia termasuk golongan mereka

Status:

Mauquf Sahih kepada Huzaifah sebagai kata-katanya dengan hukum rafa’. Hadith ini diriwayatkan dengan jalan marfu’ kepada Nabi SAW dari Huzaifah, Anas dan Ibn `Umar, juga mauquf kepada `Umar dan Huzaifah, juga mursal kepada Thowus. Riwayat yang marfu’ semuanya tidak terlepas dari kecacatan, sedangkan riwayat mursal pula kepada Thowus dan al-Hasan keduanya dhaif. Riwayat yang mauquf ia dhaif kepada `Umar namun sahih kepada Huzaifah sebagai kata-katanya.

Pertama: jalur Ibn `Umar

Matannya:

بُعِثْتُ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Aku diutus dengan pedang hingga Allah yang diibadahi dan tiada sekutu bagiNya, rezqiku ditempatkan di bawah bayang-bayang tombak dan dijadikan kehinaan dan kerendahan bagi orang yang menyelisihi perintahku. Barangsiapa menyerupai suatu kaum bererti ia termasuk golongan mereka

· Dikeluarkan Ahmad (5114,5115), Ibn Abi Syaibah (4/212) dan lain-lain dari jalur `Abdulrahman bin Thabit, telah menceritakan kami Hassan bin `Athiyyah dari Abi Munib al-Jurasyi dari Ibn `Umar secara marfu’.

· Abu Daud dalam Sunannya (4031) dengan ringkas menyebut lafaz akhrinya sahaja “وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ – Barangsiapa menyerupai suatu kaum bererti ia termasuk golongan mereka “

· Juga mengeluarkan al-Bukhari sebahagian lafaznya yang tengah dalam kitabnya ‘al-Sahih’ secara mu`allaq dengan sighah tamridh, kata al-Bukhari: “ويذكر ، عن ابن عمر ، عن النبي صلى الله عليه وسلم جعل رزقي تحت ظل رمحي وجعل الذلة والصغار على من خالف أمري– dan menyebut (yuzkar) dari Ibn `Umar dari Nabi SAW; rezqiku ditempatkan di bawah bayang-bayang tombak dan dijadikan kehinaan dan kerendahan bagi orang yang menyelisihi perintahku “

· Jalur ini cacat, penyakitnya ialah `Abdulrahman bin Thabit yang diperselisihkan, sebahagian menolaknya, sebahagian menerimanya, dan Ibn Hajar menyimpulkan beliau sebagai : “Soduq Yukhti’”.

Yang benar ialah beliau Soduq Hasanul Hadith sekiranya tidak menyendiri, dengan itu berkata Syu’aib al-Arnaut: “isnadnya dhaif atas nakarah (munkar) pada sebahagian lafaznya. Ibn Thauban – iaitu `Abdulrahman bin Thabit bin Thauban – padanya diperselisih dalam hal menjarhnya (menolak) dan menta’dilnya (menerimanya), sebahagian mereka ada yang menguatkannya, sebahagian mereka ada yang melemahkannya, dan dia celaru pada akhir hanyatnya, kesimpulannya ialah dia seorang Hasanul Hadith sekiranya dia tidak menyendiri dengan apa yang diingkar, dan sesungguhnya telah mengisyaratkan Imam Ahmad bahawa sesungguhnya dia mempunyai hadith-hadith munkar dan hadith ini adalah salah satu daripadanya”.

· Sebagaimana yang telah disebutkan sebelum ini, al-Bukhari mengeluarkan hadith ini secara mu`allaq dengan sighah tamridh menunjukkan ia dhaif disisi al-Bukhari.

· Hadith Ibn `Umar ini juga dikeluarkan oleh al-Tahawi dalam Syarah Musykil al-Athar (1/88 (231)) dari jalur Abi Umayyah telah menceritakan kami Muhammad bin Wahab bin `Athiyyah telah menceritakan kami al-Walid bin Muslim telah menceritakan kami al-Auzaie dari Hassan bin `Athiyyah dari Abi Munib al-Jurasyi dari Ibn `Umar secara marfu’.

· Jalur al-Walid bin Muslim yang disebut al-Tahawi ini juga cacat dengan beberapa kelemahan:

1- Al-Walid bin Muslim seorang yang thiqah namun dikenali sebagai seorang mudallis yang suka melakukan tadlis taswiyah terhadap al-Auzaie secara khusus dan hadith ini adalah salah satu darinya.

2- Sesetengah mutaakhkhirin menuduh bahawa al-Walid suka melakukan tadlis taswiyah secara umum dan ini tidak benar, yang benar ialah beliau hanya melakukan tadlis taswiyah kepada al-Auzaie secara khusus dan tidak kepada lainnya.

Apabila kita menyebut al-Walid bin Muslim dan tadlisnya dapatlah kita ringkaskan kepada 3 perkara iaitu: 1- beliau melakukan tadlis hanya khusus kepada al-Auzaie sahaja dan bukan lainnya, 2 – tadlisnya kepada al-Auzaie pula terbahagi kepada 2 jenis, satu ialah dia mengambil dari Yusuf bin Safar yang matruk, dan satu lagi ialah tadlis taswiyah kepada al-Auzaie iaitu apabila al-Auzaie meriwayatkan dari mereka yang dhaif maka al-Walid akan membuang perawi yang dhaif itu antara al-Auzaie dan guru al-Auzaie, 3- dia juga melakukan tadlis syuyukh. Lanjut rujuk penjelasan Syaikh Nasir bin Hammad al-Fahd dalam bukunya: “Manhaj al-Mutaqaddimin fi al-Tadlis”, halaman 97-103.

3- Perlu diketahui periwayatan seorang mudallis yang thiqah adalah diterima sebagai bersambung kecuali terdapat indikasi bahawa dia melakukan tadlis secara pasti berdasarkan qarain-qarain kuat dan bukannya melihat kepada sighah tahdis atau `an`anah semata-mata sebagaimana yang dilakukan sesetengah mutaakhkhirin!

Dan menyendirinya al-Walid bin Muslim dalam meriwayatkan hadith ini dari jalur al-Auzaie dari Hassan bin `Athiyyah, sedang yang lain-lain meriwayatkan dari jalur `Abdulrahman bin Thabit dari Hassan bin `Athiyyah adalah qarain yang menunjukkan bahawa al-Walid telah melakukan tadlis taswiyah dalam riwayat ini.

Apatah lagi diketahui bahawa al-Auzaie sememangnya pernah bertemu `Abdulrahman bin Thabit dan mengambil hadith darinya menguatkan lagi qarain bahawa al-Walid telah melakukan tadlis taswiyah untuk riwayat ini, beliau membuang `Abdulrahman bin Thabit antara al-Auzaie dan Hassan bin `Athiyyah! Dan ini adalah seburuk-buruk tadlis.

4- Selain al-Walid bin Muslim yang telah melakukan tadlis taswiyah untuk jalur ini, Abu Umayyah iaitu guru kepada al-Tahawi pula dikenali melakukan silap apabila meriwayatkan hadith dari ingatannya ketika di Mesir sebagaimana yang disebut Ibn Hibban dan dinukilkan Syu’aib al-Arnaut. Dan hadith ini adalah salah satu darinya, kerana di Mesir lah Abu Umayyah mendengar hadith dari Muhammad bin Wahab bin `Athiyyah.

Maka berkemungkinan besar Abu Umayyah telah tersilap menyebut isnad hadith ini dari al-Walid dari al-Auzaie dari Hassan bin `Athiyyah, sedangkan yang betul ialah dari `Abdulrahman bin Thabit dari Hassan bin `Athiyyah.

5- Berlakunya kegoncangan pada isnad hadith ini dari jalur al-Auzaie. Iaitu `Isa bin Yunus telah menyelisihi al-Walid dengan meriwayatkan hadith ini dari jalur al-Auzaie dari Sa’id bin Jabalah dari Thowus dari Nabi SAW secara mursal sebagaimana yang dikeluarkan Ibn Abi Syaibah dalam Musannafnya (4/216), dan mengikuti `Isa bin Yunus ialah Ibn al-Mubarak yang turut meriwayatkan dari Sa’id bin Jabalah dari Thowus secara mursal sebagaimana yang dikeluarkan al-Qudhaie dalam Musnad al-Shibab (1/244/390). Dan mursal Thowus ini dhaif, padanya Sa’id bin Jabalah yang lemah. Kata Muhammad bin Khafif al-Syirazi: “ليس هو عندهم بذاك – dia seorang yang lemah disisi mereka (iaitu ahli nuqqad hadith)” [Rujuk: Lisan al-Mizan, no. 87].

Selain itu turut menyelisihi al-Walid ialah Sadaqah yang meriwayatkan dari jalur al-Auzaie dari Yahya bin Abi Kathir dari Abi Salamah dari Abu Hurairah secara marfu’.

Saya katakan: jalur marfu’ ini dhaif kerana padanya Sadaqah yang lemah, dilemahkan oleh al-Bukhari, Ibn Ma’in, Abu Zur’ah dan lain-lain nuqqad bahkan tidaklah ia mahfuz secara marfu’, yang mahfuz ia mursal.

Jalur Sadaqah ini dikeluarkan oleh al-Bazzar dalam Musnadnya (sebagaimana yang disebut oleh Ibn Hajar dalam Nasbu al-Rayah, 12/473) dan kata al-Bazzar: “لم يتابع صدقة على روايته هذه ، وغيره يرويه عن الأوزاعي مرسلاً - tiadalah yang mengikuti akan Sadaqah atas riwayatnya yang ini (iaitu secara marfu’), lain-lain meriwayatkan dari al-Auzaie secara mursal”. Dan ini adalah penjelasan ma’lulnya lemahnya jalur marfu’ hadith ini oleh Imam al-Bazzar dan yang mahfuz ialah ia mursal, perlu diketahui bahawa nama sebenar bagi kitab Musnad karya Imam al-Bazzar ialah al-Musnad al-Mu'allal al-Kabir atau Musnad Hadith Rasulillah Bi 'Ilalihi atau al-Musnad bil 'Ilal sebagaimana yang tertera dalam manuskrip-manuskrip kitab ini, iaitu ia menghimpunkan hadith-hadith Musnad yang padanya terdapat kecacatan (`ilal).

Disamping itu hadith ini juga dinyatakan mahfuz sebagai mursal bahkan dilemahkan oleh Imam Abu Hatim dan Imam Duhaim (iaitu Imam `Abdulrahman bin Ibrahim al-Dimasqi) sebagaimana yang disebut oleh Ibn Abi Hatim dalam al-`Ilal (1/319); katanya: “سألت أبي عن حديث رواه عمرو بن أبي سلمة عن صدقة ابن عبد الله عن الاوزاعي عن يحيى بن أبي كثير عن أبي سلمة عن أبي هريرة عن النبي قال بعثت بالسيف بين يدي الساعة وجعل رزقي تحت ظل رمحي وجعل الذل والصغار على من خالفني ومن تشبه بقوم فهو منهم ، قال أبي : قال أبودحيم : هذا الحديث ليس بشيء ، الحديث حديث الأوزاعي ، عن سعيد بن جبلة ، عن طاوس ، عن النبي صلى الله عليه وسلم – aku bertanya ayahku berkenaan hadith yang diriwayatkan oleh `Amru bin Abi Salamah dari Sadaqah ibn `Abdullah dari al-Auzaie dari Yahya bin Abi Kathir dari Abi Salamah dari Abi Hurairah dari Nabi SAW – matan hadith - , dan jawab ayahku: telah berkata Abu Duhaim (berlaku kesilapan dalam cetakan, yang benar ialah Duhaim, bukan Abu Duhaim sebagaimana komentar Syu’aib al-Arnaut): “hadith ini laisa bi syaie (iaitu hadith ini lemah), hadith ini ialah hadith al-Auzaie dari Sa’id bin Jabalah dari Thowus dari Nabi SAW (iaitu secara mursal)”.

· Dengan itu jalur Ibn `Umar ini tidaklah ia sahih.



Kedua: jalur Anas

Matannya :

بعثت بين يدي الساعة ، وجعل رزقي تحت ظل رمحي ، وجعل الذل والصغار على من خالفني ، ومن تشبه لقوم فهو منهم

Aku diutus menjelang hari kiamat, dan rezqiku ditempatkan di bawah bayang-bayang tombak. Kehinaan dan kerendahan dijadikan bagi orang yang menyelisihiku. Barangsiapa menyerupai suatu kaum bererti ia termasuk golongan mereka

· Dikeluarkan antaranya oleh Abu Nu’aim dalam Akhbar Asbahan (1/129) dari jalur Bisyr bin al-Husin al-Asbahani menceritakan kami al-Zubair bin `Adiy dari Anas bin Malik secara marfu’.

· Isnad jalur ini dhaif penyakitnya ialah Bisyr yang sepakat akan lemahnya bahkan dikata sebagai mendustakan hadith dari al-Zubair secara khusus. Kata al-Bukhari tentangnya: “فيه نظر- fihi nazor” (rujuk: al-Tarikh al-Kabir, 1726) yang merupakan antara jarh yang kuat disisi al-Bukhari, berkata al-Daraquthni: “متروك -matruk” (rujuk: Lisan al-Mizan, 74), berkata Ibn `Adiy: “عامة حديثه ليس بمحفوظ- umum hadithnya tidaklah mahfuz” (rujuk: Lisan al-Mizan, 74), dan berkata Abu Hatim: “يكذب على الزبير - mendustakan hadith atas al-Zubair” (rujuk: Lisan al-Mizan, 74).

· Dengan itu jalur Anas ini tidaklah ia sahih juga, bahkan dhaif jiddan, bahkan mungkin palsu.

Ketiga: jalur al-Hasan al-Basri

Matannya:

إن الله بعثني بسيفي بين يدي الساعة ، وجعل رزقي تحت ظل رمحي ، وجعل الذل والصغار على من خالفني ، ومن تشبه بقوم فهو منهم

Sesungguhnya Allah mengutusku dengan pedang menjelang hari kiamat, dan rezqiku ditempatkan di bawah bayang-bayang tombak. Kehinaan dan kerendahan dijadikan bagi orang yang menyelisihiku. Barangsiapa menyerupai suatu kaum bererti ia termasuk golongan mereka

· Dikeluarkan oleh Sa’id bin Mansur dalam Sunannya (2194) dari jalur Ismail bin `Ayyash dari Abi `Umair al-Suri dari al-Hasan al-Basri dari Nabi SAW.

· Saya katakan: jalur ini putus, ia mursal, al-Hasan al-Basri adalah tabiin dan beliau tidak bertemu Nabi SAW. Dan isnadnya dhaif kerana Ismail bin `Ayyash yang lemah apabila meriwayatkan dari selain ahli negaranya.

· Dengan itu, jalur al-Hasan ini mursal dhaif, tidaklah ia sahih juga.

Keempat: jalur `Umar

Matannya :



َمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa menyerupai suatu kaum bererti ia termasuk golongan mereka

· Dikeluarkan `Abdulrazzaq dalam Musannafnya (20986) dari jalur Ma’mar dari Qatadah dari `Umar secara mauquf

· Saya katakan: isnad ini dhaif, ia putus. Sesungguhnya Qatadah tidak mendengar dari `Umar , kata al-Hakim: “لم يسمع قتادة من صحابى غير أنس – tidak sama sekali mendengar Qatadah dari seorang Sahabat pun kecuali Anas“ (rujuk: Tahzib al-Tahzib, 8/355). Dan putusnya sanad adalah dhaif kerana telah hilang salah satu syarat utama hadith sahih.

· Dengan itu, jalur `Umar ini tidaklah ia sahih juga

Kelima: jalur Huzaifah

Matannya :

َمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa menyerupai suatu kaum bererti ia termasuk golongan mereka

· Dikeluarkan antaranya oleh al-Bazzar (7/368/2966) dan al-Tabarani dalam al-Awsath (8/179/8327) dari jalur Muhammad bin Marzuq telah mengkhabarkan kami `Abdul`Aziz al-Khtatab telah mengkhabarkan kami `Ali bin `Ghurab telah mengkhabarkan kami Hisyam bin Hassan dari Muhammad bin Sirin dari Abi `Ubaidah bin Huzaifah dari Ayahnya (Huzaifah) dari Nabi SAW secara marfu’.

· Saya katakan: jalur marfu’ ini tidak mahfuz, yang mahfuz ialah ia mauquf kepada Huzaifah sebagai kata-katanya. Berkata Imam al-Bazzar sejurus mengeluarkan hadith ini: “وهذا الحديث لا نعلمه يروى عن حذيفة مسندا إلا من هذا الوجه ، وقد رواه علي بن غراب ، عن هشام ، عن محمد ، عن أبي عبيدة ، عن أبيه ، موقوفاً – tidak diketahui akan hadith ini akan mereka yang meriwayatkan dari Huzaifah secara musnad (iaitu marfu’) kecuali wajah ini, dan sesungguhnya telah meriwayatkan `Ali bin Ghurab dari Hisyam dari Muhammad dari Abi `Ubaidah dari Ayahnya (Huzaifah) secara mauquf“

· Mengikuti Ibn Sirin ialah Yahya bin Sa’id yang meriwayatkan dari Abi `Ubaidah dari Huzaifah secara mauquf sebagai kata-katanya. Dikeluarkan Ahmad bin Hanbal dalam al-Wara’ (508) dan isnadnya sahih kepada Huzaifah dan ia mahfuz.

· Dengan itu jalur yang mauquf kepada Huzaifah ini mahfuz (terpelihara) dan ia sahih kepada Huzaifah sebagai kata-katanya. Dan padanya hukum rafa’ kerana tidak mungkin seorang sahabat menyebut kata-kata ini dari pemikirannya sendiri melainkan padanya apa yang diajarkan Nabi SAW. Ini diperkuatkan lagi dengan beberapa hadith sahih thabit dari Nabi SAW berkenaan perihal larangan memakan dengan tangan kiri, larangan menyimpan misai dan sebagainya yang menunjukkan Islam itu dibezakan dari agama lainnya.


Allah hu’alam.

Abu Ismail Muhammad Fathi al-Tabib
Khamis, 10 November 2011 / 14 Zulhijjah 1432H
11.03 pagi / Iskandariah Mesir

Sumber : http://ansarul-hadis.blogspot.com/2011/11/penjelasan-status-hadith-barangsiapa.html

Isnin, 31 Oktober 2011

Hadis : Larangan Memburuk-Burukkan Para Sahabat r.a.



Uwaim Bin Saidah al-Ansari ra meriwayatkan bahawa Rasulullah saw bersabda "Sesungguhnya Allah Tabaraka Wa Ta'ala telah memilihku (sebagai Nabi) dan telah memilih sahabat-sahabat untukku. Diantara mereka ada yang telah dijadikan oleh-Nya sebagai pembantu, pembela dan sebagai mertuaku. Sesiapa yang memburuk-burukkan mereka, ia akan dilaknat oleh Allah, para malaikat dan manusia semuanya. Tidak akan diterima darinya pada hari Kiamat nanti ibadat sunat dan fardhu"

(Riwayat al-Hakim, al-Mustadrak jilid 3 hal. 632) Al-Hakim dan Imam Zahabi mengatakan hadis ini sahih.

Jumaat, 28 Oktober 2011

Syiah @ Rafidhah Dalam Hadis-Hadis Rasulullah s.a.w



1. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas katanya "Aku mendengar Rasulullah saw bersabda "Akan muncul satu golongan di akhir zaman yang dinamakan Rafidhah. Mereka menolak Islam tetapi mendakwa Islam. Bunuhlah mereka kerana mereka adalah golongan musyrikun" (Ibnu Qutaibah, Ta'wilu Mukhtalifi al-Hadith, hal 56)

2. Diriwayatkan dari Zaid Bin Ali Zainal Abidin iaitu cucunda kepada Saidina Hussein dan bapa saudara Ja'far as-Sadiq, bahawa ketika Syiah mengemukakan kepadanya syarat sokongan mereka terhadap beliau, iaitu "Jika engkau berlepas diri daripada Abu Bakar dan Omar maka kami akan menyokong engkau tetapi jika engkau tidak berlepas diri daripadanya maka kami akan menolak engkau". Mendengar syarat mereka itu, Imam Zaid lantas berkata "Allahu Akbar! Ayahku telah menceritakan kepadaku bahawa Rasulullah saw telah bersabda kepada Ali ra "Sesungguhnya akan muncul satu golongan yang mendakwa cinta kepada kami. Mereka akan mempunyai gelaran-gelaran yang dapat dikenali melaluinya. Apabila kamu menemui mereka, bunuhlah mereka kerana mereka itu sebenarnya musyrikun" Kemudian Imam Zaid berkata "Pergilah kamu, kamu golongan Rafidhah (golongan yang dimaksudkan oleh Nabi kepada Saidina Ali dalam sabdanya itu)". (Nasywan al-Himyari, al-Huuru al-Ain, hal. 185)

3. Ali bin Abi Talib berkata "Rasulullah saw bersabda "Akan muncul satu golongan di akhir zaman yang dipanggil Rafidhah. Mereka menolak Islam" (Ahmad, al-Musnad, j.1, hal.103)

4. Imam az-Zahabi telah mengemukakan satu riwayat daripada Saidina Ali sebagaimana dinukilkan oleh Ibnu Hajar al-Haithami bahawa Saidina Ali berkata Rasulullah saw bersabda "Akan muncul didalam umatku di akhir zaman nanti satu golongan yang dinamakan Rafidhah. Mereka menolak Islam". Imam ad-Daraqutni mengemukakan hadis ini dengan sedikit tambahan iaitu Rasulullah saw berkata kepada Ali "Sekiranya kamu menemui mereka hendaklah kamu bunuh mereka kerana mereka adalah golongan musyrikun. Ali berkata "Aku bertanya Rasulullah saw "Apakah tanda yang ada pada mereka? Baginda bersabda "Mereka terlalu memuji-muji engkau dengan sesuatu yang tidak ada pada engkau dan mereka memburuk-burukkan para Sahabat" (Imam Ibnu Hajar al-Haithami, as-Sawa'iqu al-Muhriqah, hal 102)

5. Imam al-Bukhari juga mengemukakan hadis ini didalam kitabnya yang bernama "at-Tarikhu al-kabir" dibawah biografi Ibrahim bin Hasan dengan lafaz "Akan muncul satu golongan, gelaran mereka ialah Rafidhah. Mereka menolak agama" (al-Bukhari, at-Tarikhu al-Kabir, j.1, hal 279-280). Syeikh Ahmad Muhammad Syakir membuat komentar selepas mengemukakan riwayat yang disebutkan oleh Bukhari tadi begini "Agaknya Bukhari tidak memandang hadis ini daif kerana beliau tidak mencacatkan seorangpun dari perawi-perawinya.

6. Diriwayatkan dari Ali bahawa Nabi saw bersabda "Kiranya engkau ingin menjadi ahli syurga maka nanti akan muncul satu golongan yang mendakwa cintakan engkau, mereka membaca al-Quran tetapi pembacaannya tidak melampaui halkum mereka (tidak meresap ke dalam hati), mereka dikenali sebagai Rafidhah. Sekiranya engkau sempat menemui mereka, perangilah mereka kerana mereka adalah golongan musyrikun" (Ali al-Muttaqi, Kanzu al-Ummal, j.11 hal 324). Selain dari hadis ini, Ali al-Muttaqi telah mengemukakan 13 hadis yang lain berhubung dengan Rafidhah didalam kitab beliau yang tersebut dibawah tajuk "ar-Rafidhah Qabbabahum Allah" (Golongan Rafidhah-Semoga mereka dimurkai Allah)

7. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas katanya "Pernah aku berada disamping Nabi saw bersamanya ada Ali. Nabi saw bersabda (kepada Ali)"Wahai Ali! Nanti akan muncul didalam umatku satu golongan yang mendakwa cintakan Ahlul Bait. Mereka digelar Rafidhah. Perangilah mereka kerana mereka adalah golongan musyrikun" (Hafiz Nuruddin Ali bin Abu Bakr al-Haithami, Majma'u az-Zawaid wa Manba'u al-Fawaid, j.10 hal 22)

8. Hafiz Ibnu Hajar dalam "Ta'jilu al-Manfa'ah"(hal 14) juga mengemukaan hadis di atas dan beliau tidak menyebutkan sebarang kecacatan didalam sanad hadis tersebut (lihat Ta'liq dan Syarah al-Musnad oleh Syeikh Ahmad Muhammad Syakir, j.2 hal 806)

9. Imam ad-Daraqutni, Ibnu hajar al-haithami dan Imam Ibnu Taimiyyah juga telah mengemukakan hadis diatas dengan sedikit perbezaan pada lafaznya. Untuk itu lihat "as-Sawaa'iqu al-Muhriqah (hal 102) dan "as-Sharimu al-Maslul (hal 582-583)

Sumber : Syiah Rafidhah Diantara Kecuaian Ulama' Dan Kebingungan Ummah oleh Muhammad Asri Yusof halaman 36-39

Khamis, 27 Oktober 2011

Fatwa Mufti Libya dan Kuwait: Qaddafi Kafir Tak Boleh Dishalatkan


LIBIYA,(voa-islam.com) – setelah jatuhya kota Sirte ke tangan pejuang Libiya dan tewasnya diktator Muammar Qaddafi, ada yang merasa senang dan ada yang merasa sedih. Mereka yang merasa senang beralasan karena telah tewasnya penguasa diktator dan pendusta agama. Sedangkan mereka yang loyal menganggap Qaddafi sosok pemimpin arab yang gagah berani dan amat menentang amerika.

Namun ada Fatwa yang datang dari Mufti negri Omar Mukhtar bahwa tidak boleh secara Syara’ mensholatkan dictator Qaddafi. Ya, Syaikh Ash Shodiq Al-Ghuryani adalah seorang mufti agung Libiya menyampaikan pada hari ahad bahwa tidak boleh secara syara’ mensholatkan Qaddafi karena sebab yang syar’I yaitu karena kekufurannya yang jelas dan karena pengingkarannya terhadap Sunnah Nabawiyyah serta statusnya yang sama seperti orang yang dikenakan hukum hadd dan orang-orang fasik. Hal ini beliau sampaikan dihadapan media-media. “Ini (tidak disholatkan dimesjid kaum muslimin) biar menjadi teguran bagi para penguasa.Namun, boleh dikuburkan dipekuburan kaum muslimin dan dimandikan serta disholatkan oleh keluarganya saja” lanjut beliau.

...Namun ada Fatwa yang datang dari Mufti negri Omar Mukhtar bahwa tidak boleh secara Syara’ mensholatkan dictator Qaddafi.....
Beliau juga mewajibkan agar Qaddafi dikuburkan ditempat yang tidak diketahui orang Libiya agar tidak menjadi fitnah. Hal yang sama juga diungkapkan oleh ulama Kuwait., Syaikh Utsman Al Khumais, ketika ditanya bagaimana pendapat anda tentang Qaddafi, beliau menjawab:”aku condong dengan pendapat bahwa dia bukan muslim”.

Namun orang yang bertanya tidak terima dan bilang:”Anda mengatakan bahawa Qaddafi bukan muslim??” beliau menegaskan:”dia bukan muslim”. Beliau juga menyebutkan bahwa Qaddafi boleh dibunuh kalau menjadi tawanan dan tidak boleh berbelas kasih sama dia, karena dia kafir mujrim, membunuh warga Libiya, mengusir mereka dan merampas harta mereka.(usamah/dbs)

Sumber : http://www.voa-islam.com/news/islamic-world/2011/10/25/16490/mufti-libya-dan-kuwait-qaddafi-kafir-tak-boleh-dishalatkan/

Rabu, 13 Julai 2011

Kisah Syeikh Badiuzzaman Said Nursi Dan Golongan Yang Menyeru Pemberontakan


Dalam tahun 1931, azan (bang) telah ditukar dari bahasa Arab ke bahasa Turki. Dalam tahun 1935, Masjid Ayasofia, sebuah bangunan indah yang merupakan sebuah masjid semenjak tahun 1453 telah ditukar menjadi sebuah muzium. Hanya kerajaan yang benar-benar zalim dan menentang agama saja yang berani menjalankan tindakan-tindakan yang sedemikian hebat didalam negara orang Muslim.

Kerajaan yang bercorak beginilah yang berada di Ankara ketika berlakunya satu pemberontakan suku Kurdi di Turki Timur pada tahun 1925. Syaukat Sureyya Aydemir, seorang penyokong kuat dasar Parti Republikan Rakyat telah menyebut pemberontakan ini dalam bukunya yang bertajuk 'Tek Adam'. Menurutnya, sebab utama tercetusnya pemberontakan tersebut bukanlah kerana orang-orang Kurdi inginkan sebuah negara merdeka, akan tetapi ianya berlaku sebab kerajaan Parti Republikan Rakyat menjalankan dasar-dasar yang bertentangan dengan Islam. Ustaz Said Nursi berketurunan Kurdi, lantaran itu orang-orang Kurdi yang bersemangat kebangsaan Kurdi telah menemuinya untuk mendapat sokongan. Mereka berkata kepada beliau "Pengaruh awak sangat besar". Badiuzzaman yang sememangnya menentang fahaman kebangsaan Barat telah menolak pelawaan mereka itu dengan berkata :

"Negara ini dan orang-orang Turki telah menjadi pejuang Islam selama berabad-abad. Negara ini juga telah menghasilkan banyak orang wali. Keturunan wali-wali ini janganlah ditentang. Tidak boleh saudara menentang saudara. Awak perlu berhenti bertindak sedemikian. Yang perlunya ialah negara ini diperbaiki dan dipimpin ke jalan yang benar".

Berkenaan dengan peristiwa ini, Najmuddin Shahiner menceritakan dalam sebuah bukunya tentang Ustaz Badiuzzaman Said Nursi :

Di awal tahun 1925, Ustaz Said Nursi selalu keluar dari guanya dan pergi ke Masjid Nurshin di Van untuk menunaikan sembahyang Jumaat. Beliau juga memberi khutbah dimasjid tersebut. Pada awal tahun 1925, pemberontakan Syeikh Said (Bukannya Syeikh Said Nursi) pun tercetus diwilayah-wilayah Turki Timur. Sementara itu, Kor Hussain Pasha, seorang ketua suku Kurdi bersama-sama pegawai-pegawai suku Kurdi yang lain telah berhimpun ditaman tersebut. Ustaz Said Nursi dapat meneka tujuan pemimpin-pemimpin Kurdi ini dan beliau pun bersyarah pada mereka :

"Saudara, saya kira saudara semua datang ke sini dengan tujuan yang buruk (negatif)?"

Hussain Pasha pun mengaku akan kata-kata Said Nursi tadi. Seterusnya ia mendesak Ustaz Said Nursi menyertai pemberontakan yang dirancang oleh mereka itu.Ustaz Said Nursi pun naik marah dengan kata-kata Hussain Pasha dan ia pun berkata :

"Saya telah lama tahu akan niat buruk awak itu. Sikap begini bukan saja buruk, bahkan ia adalah satu sikap jahiliah. Saya hairan mengapa awak boleh bersikap demikian. Jika awak inginkan Syariat, maka tindakan begini adalah bertentangan dengan Syariat. Awak tidak boleh menegakkan Syariat dengan mengambil langkah yang bertentangan dengan Syariat itu sendiri. Gerakan awak ini nampaknya didalangi oleh anasir luar".

Petikan buku "Mujaddid Islam Syeikh Badiuzzaman Said Nursi" mukasurat 50-51

Isnin, 13 Jun 2011

Demonstrasi Menurut Perspektif Sunnah


Demonstrasi anjuran PAS yang turut sama mengangkat gambar tokoh-tokoh Syi'ah Rafidhah

Sejarah Demonstrasi

Dalam sejarah Islam, awal tercetusnya demonstrasi adalah dari golongan pemberontak ketika pemerintahan ‘Utsman B. Affan radhiyallahu ‘anhu. Mazhab demonstrasi dan pemberontakan ketika itu antaranya dipengaruhi oleh seorang tokoh Yahudi bernama ‘Abdullah B. Saba’ yang berpura-pura masuk Islam. ‘Abdullah B. Saba’ ini menyusup masuk ke dalam masyarakat Islam bertujuan menyebarkan pelbagai fitnah dan syubhat menghasut rakyat membenci Khalifah ‘Utsman.

Tindakan ‘Abdullah B. Saba’ ini bertepatan dengan sikap permusuhan Yahudi terhadap umat Islam sebagaimana termaktub dalam al-Qur’an sendiri. Tidak akan senang mereka selagi mana Islam tidak dihancurkan.

Di antara tuduhan yang beliau lemparkan ke atas ‘Utsman antaranya ‘Utsman ini bersifat kronisme, nepotisme, dan mendahului ‘Ali dalam hak kekhalifahan. Syubhat-syubhat dan fitnah yang beliau sebarkan tampak berjaya dan membuahkan hasil lantaran ketika itu terdapat ramai orang awam dan muallaf yang baru memeluk Islam yang masih belum mendalam keimanannya.

Maka, rakyat pun akhirnya termakan syubhat lalu bangkit mengkritik ‘Utsman secara terbuka di sana sini yang kemudiannya muncullah revolusi rakyat sehingga mengakibatkan pemberontakan. Setelah beberapa hari rumah ‘Utsman mereka kepung, akhirnya ‘Utsman pun mereka bunuh dalam peristiwa yang penuh tragis. Golongan pemberontak dan aktivis demonstrasi ketika itu menamakan tindakan mereka sebagai amar makruf nahi mungkar! Walhal ia adalah kebathilan berkedok agama.

Setelah peristiwa terbunuhnya ‘Utsman, fitnah tidak kunjung reda. Sebaliknya terus berkobar ketika zaman pemerintahan ‘Ali radhiyallahu ‘anhu dan seterusnya. Pemikiran ‘Abdullah B. Saba’ terus meracuni masyarakat sehingga muncul pula golongan Syi’ah dan Khawarij sekaligus. Awal kemunculan Syi’ah ketika itu berperanan mengajak masyarakat mendewakan ‘Ali, manakala golongan khawarij menjadi faktor melaga-lagakan para sahabat terutamanya di antara ‘Ali dengan Mu’awiyah. Dua faktor inilah antara yang bertanggungjawab mencetuskan peperangan Jamal dan Siffin mengakibatkan para sahabat bertembung sesama sendiri. Pertembungan tersebut adalah antara kejayaan besar faktor Syi’ah dan Khawarij dalam menimbulkan salah faham dan fitnah sesama para sahabat ketika itu. Dan kesannya terus dirasai sehingga hari ini.

Demonstrasi Pasca Revolusi Iran

Pada era 1970an di Iran, gelombang demonstrasi dan revolusi bergema. Dicetuskan oleh kelompok Syi’ah Rafidhah hasil tinggalan ideologi ‘Abdullah B. Saba’. Dipandu dan disemarakkan oleh Khomeini laknatullah ‘alaih. Melalui karya dan pemikirannya, masyarakat Iran bangkit menghidupkan semula doktrin aqidah penuh kontroversi Wilayatul Faqih. Mereka berdemonstrasi dan memberontak dalam rangka menjatuhkan Shah Iran pada tahun 1978 atas alasan penindasan dan kezaliman. Demonstrasi ketika itu mengakibatkan pelbagai kerosakan dan ratusan nyawa terkorban. Shah Mohamad bersama-sama permaisurinya pula melarikan diri.

Aksi-aksi demonstrasi yang mereka lancarkan ini saling tak tumpah dengan aksi demonstrasi yang dicetuskan oleh ‘Abdullah B. Saba’ di zaman ‘Utsman. Bahkan demonstrasi mereka inilah sekarang menjadi inspirasi sekian banyak demonstrasi-demonstrasi lainnya di Timur Tengah pada hari ini. Dalang di sebalik setiap demonstrasi mereka ini memang tidak lepas dari keterlibatan agen-agen Yahudi, CIA, dan Amerika.

Di Malaysia tidak kurang ramai yang turut terkesan dengan kejayaan revolusi Iran ala ‘Abdullah B. Saba’ ini terutamanya para aktivis Parti Islam Se-Malaysia. Malah Mat Sabu yang kini menjawat jatawan Naib Presiden PAS sendiri secara terbuka mengakui mendukung idea-idea revolusi Khomeini di Iran. Bukan setakat itu, beliau dalam banyak siri ucapan, ceramah, dan karya tulisnya turut mengajak masyarakat supaya mencontohi Iran dengan mengambil pedoman ideologi Khomeini termasuk fahaman sesat kesyi’ahannya.

Jika kita teliti dengan saksama, di antara tujuan sebenar di sebalik aksi demonstrasi Iran tadi adalah bertujuan menghidupkan semula aqidah Wilayatul Faqih yang telah lama disenyapkan. Dalam kepercayaan Wilayatul Faqih ini, golongan Syi’ah Rafidhah yang pada ketika itu dipandu oleh Khomeini mengajak rakyat membangunkan kepimpinan ulama sebagai galang ganti kehilangan Imam 12 mereka.

Dalam doktrin aqidah Syi’ah Rafidhah, masyarakat sepatutnya dipimpin oleh para imam yang maksum, iaitu Imam yang 12. Dalam kepercayaan mereka, imam yang terakhir iaitu imam ke-12 telah hilang (ghaib) sejak tahun 329H. Namun mereka mendakwa nanti sang imam akan kembali sebagai al-Mahdi.

Sementara menunggu kepulangan imam yang ghaib tersebut, kumpulan ulama dan fuqaha mereka perlu tampil mengambil-alih kekhalifahan sebagai wakil atau pengganti imam mereka yang ghaib.

Sebab itulah jika kita lihat apa yang diamalkan Iran hari ini setelah kejayaan revolusi 1979 dan penguasaan Khomeini, sistem pemerintahan Iran didirikan berasaskan kepimpinan ulama di bawah fahaman Wilayatul Faqih sebagai dewan tertinggi pemerintahan.

Termasuk dalam kedudukan Wilayatul Faqih adalah dewan elit para ulama selaku penjawat kedudukan tertinggi, penasihat spiritual, dan penentu dasar di Iran, lebih tinggi daripada Presiden dan Parlimen. Ketika ini, pucuk pimpinan tertinggi dewan Wilayatul Faqih dipegang oleh Ali Khameini. Manakala sistem demokrasi yang wujud di Iran hari ini sedikit pun tidak memberi kesan pengaruh dalam pembentukan kerajaan.

Menurut mereka, sesiapa yang menolak konsep Wilayatul Faqih ini, maka dia murtad, kafir, dan kekal di neraka. Para ulama dan imam Syi’ah di sisi mereka adalah maksum termasuk Khomeini. Malah konsep Wilayatul Faqih di sisi mereka adalah satu konsep yang menyama-tarafkan imam-imam Syi'ah dengan para nabi, bahkan sehingga lebih hebat dari para nabi, serta memiliki kuasa ketuhanan seperti boleh mengetahui yang ghaib dan apa yang bakal berlaku! Ini jelas satu konsep yang kufur akbar! Konsep ini bertepatan dengan doktrin ‘Abdullah B. Saba’ yang mengajar masyarakat di zaman ‘Utsman supaya mendewa dan mempertuhankan Saidina ‘Ali.

Era Selepas Revolusi Iran

Kebangkitan Syi’ah rafidhah berfahaman Imam 12 ini adalah khabar yang bakal menyemarakkan semula malapetaka permusuhan di antara Ahlus Sunnah dengan golongan sesat Syi’ah sejak zaman-berzaman. Perkara ini telah pun dan sedang berlaku sekarang.

Antara buktinya, ketika perang dan penguasaan Amerika ke atas Afghanistan, Syi’ah Iran inilah yang menyalurkan bantuan sekaligus menjadi faktor utama kemenangan Amerika di sana. Ini diakui sendiri oleh tokoh Syi’ah Muhamed ‘Ali Abtahi.

Kemudian ketika serangan Amerika ke atas Iraq menentang Saddam Hussein, Syi’ah Iran jugalah yang membuka laluan dan bantuan kepada Amerika. Hasilnya, tanah jajahan Iraq kini dikuasai oleh Syi’ah Iran manakala hasil buminya seperti minyak dibolot Amerika. Umat Islam di Iraq dan Afghanistan pula habis dibunuh dengan kejam hampir setiap hari. Ada yang disembelih, ada yang dipanaskan dalam ketuhar, ada yang dicampakkan ke dalam api, ada yang disiksa, ada yang dipenjara, ada yang dirogol, dan seumpamanya. Al-Qur’an dan agama Islam pula dihina. Demikianlah dahsyatnya fitnah kaum Syi’ah Rafidhah!

Hari ini kita mungkin melihat umat Islam (Ahlus Sunnah) bebas beribadah di negara-negara lain termasuk negara kafir Amerika, tetapi sama sekali tidak dan bukan di Iran, terutamanya Tehran! Bahkan masjid-masjid ahlus sunnah habis dihancurkan.

Ini bukan suatu yang menghairankan sebenarnya, kerana di sisi aqidah Syi’ah darah dan harta umat Islam (ahlus sunnah wal-jama’ah) adalah halal. Bagi mereka, para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah kafir dan sesat secara umum. Oleh kerana itu, dalam karya-karya dan ucapan-ucapan mereka, para sahabat ridhwanullah ‘alaihim ajma’in adalah orang yang sering mereka laknat dan caci. Perkara ini turut didedahkan dalam satu seminar berkaitan Syi’ah di al-Madinah International University (MEDIU) Shah Alam bertarikh 15 Mei 2011 baru-baru ini.

Demonstrasi BERSIH Di Malaysia

Di Malaysia hari ini, demonstrasi jalanan yang hampir sama disemarakkan untuk memaki-hamun, mencela, dan mencerca pemerintah atas konon namanya amar ma’ruf nahi mungkar dan jihad. Ia disuburkan oleh Parti Islam Se-Malaysia (PAS). Slogan-slogan yang sering dimainkan oleh mereka adalah hak kebebasan bersuara, demokrasi, menetang kezaliman, dan membasmi penindasan. Ini diakui sendiri oleh tokoh-tokoh utama mereka seperti Nik ‘Abdul Aziz Nik Mat dan ‘Abdul Ghani Samsuddin. Dikuti pula oleh pelopor dan pencetus utama demonstrasi BERSIH Mat Sabu sebagaimana terpampang dalam laman sesawang beliau.

Mat Sabu selaku Timbalan Presiden PAS turut mengakui mendukung idea-idea demonstrasi pasca revolusi Iran oleh Khomeini laknatullah 'alaih. Bahkan bukan sekadar idea demonstrasi, tetapi Mat Sabu juga turut mengajak masyarakat Malaysia untuk berpedoman kepada Khomeini dalam banyak hal termasuk persoalan ushul aqidah. Ini boleh dilihat dalam banyak rakaman ucapan, ceramah, dan tulisan-tulisan beliau di akhbar atau media-media pembangkang. Begitu juga dengan ‘Abdul Ghani Samsuddin yang membela aqidah Syi’ah dalam konsep Wilayatul Faqih untuk diterapkan dalam sistem pemerintahan. Sedangkan aqidah Wilayatul Faqih ini begitu jelas kekufurannya sebagaimana yang telah penulis jelaskan

Mat Sabu selain antara tokoh PAS yang begitu jelas cenderung kepada pemikiran sesat Syi’ah, beliau juga mengakui boleh memberontak kepada pemerintah melalui tiket kebangkitan rakyat menentang kezaliman dan penindasan. Prinsip Mat Sabu ini sebenarnya saling tak tumpah dengan pemikiran revolusi Khomeini menumbangkan Shah Iran di era 1970an. Juga sebagaimana gerakan 'Abdullah B. Saba' di zaman 'Utsman.


Sedangkan perkara ini begitu jelas bertentangan dengan prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal-Jama’ah dalam bermu’amalah terhadap pemerintah yang tidak akan keluar dari ketaatan terhadap pemerintah selagi mana mereka (pemerintah) masih tetap Muslim dan menegakkan syi’ar-syi’ar solat. Bertentangan juga dengan akhlak dan adab ahlus sunnah wal-jama'ah dalam menasihati pemerintah sekiranya pemerintah melakukan kesalahan.

Manakala slogan-slogan kebebasan bersuara yang sering mereka laung-laungkan itu tidak lain antaranya adalah bertujuan supaya media-media yang mereka aturkan berupaya bergerak bebas menyebarkan pemikiran bathil lagi sesat. Selain supaya masyarakat bangkit membenci para pemerintah negara hari ini. Mereka gembira sekiranya negara menjadi hura-hara dan kelam-kabut. Kerana sekiranya negara huru-hara, maka pelbagai agenda jahat dan buruk yang mereka rancangkan menjadi lebih mudah direncanakan. Ini sebagaimana kesan dan hasil demonstrasi di Timur Tengah seperti di Mesir dan Libya baru-baru ini, pengaruh Yahudi bersama-sama Syi'ah dan Amerika telah mula masuk campur dalam urusan negara mereka. Juga sebagaimana yang telah berlaku di Iran semenjak 1979. Syi'ah di Iran sekarang tampak semakin kukuh hasil kerjasama dengan Yahudi dan Amerika. Bahkan sekarang mereka sedang berusaha gigih untuk menguasai negara-negara Timur Tengah lainnya dalam misi membina semula Daulah Majusi Parsi-Raya yang telah dimusnahkan ketika zaman kekhalifahan ‘Umar al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu.

Bukanlah suatu yang aneh di sisi Syi’ah untuk memberontak kepada pemerintah mana sahaja, kerana bagi mereka Abu Bakar, ‘Umar, dan ‘Utsman sendiri selaku Khalifah al-Rasyidin pun adalah kafir, sesat, dan munafiq. Jika hak kekhalifahan ketiga-tiga mereka ini pun mereka nafikan, apatah lagi kepada para pemimpin umat Islam selain Abu Bakar, ‘Umar, dan ‘Utsman?

Demikianlah juga dakwah PAS dalam arena Malaysia hari ini. Jika Syi'ah dikenali dengan dakwah caci-maki dan melaknat para sahabat serta bersatu-padu dengan Amerika dan Yahudi, maka dakwah PAS adalah dakwah yang dikenali dengan maki-hamun memusuhi pemerintah. Dakwah yang mengajak bersatu dan bersekongkol dengan apa jua bentuk firqah sesat anti Islam termasuk Syi'ah, kuffar, DAP, PKR, al-Arqam, liberal, dan seumpamanya asalkan bukan sahaja bersatu dengan pemerintah.

Tidak dikenali dari dakwah PAS di Malaysia sebagai dakwah yang mengajak kepada tauhid dan ilmu-ilmu agama. Melainkan mereka cukup dikenali sebagai dakwah yang mengajak bersatu atas nama menentang, membenci, dan memusuhi pemerintah atas alasan demokrasi, jihad, amar makruf nahi mungkar, dan kuasa.

Lebih mendedahkan wajah sebenar mereka, hari ini tersebar dengan meluas gambar-gambar perhimpunan anjuran PAS dan BERSIH ini sambil menjulang potret-potret imam Syi’ah ketika demonstrasi berlangsung. Selain itu, gambar-gambar tokoh-tokoh utama PAS menghadiri sidang penyatuan dan kerjasama dengan tokoh-tokoh ulama Syi’ah Iran juga mula tersebar di internet. Kewujudan penyebaran aliran Syi’ah di dalam PAS juga sebenarnya turut diakui oleh Tun Dr. Mahathir sejak beliau menjawat jawatan Perdana Menteri.

Tindakan Lanjut

Atas sebab kesedaran dan rasa risau yang tinggi, penulis menyeru kepada para pemimpin atau pihak berkuasa berkaitan agar membendung sebarang bentuk aktiviti demonstrasi terutamanya yang melibatkan anjuran PAS dan BERSIH ini di mana pun jua. Kerana di sebalik demonstrasi ke atas para pemimpin, mereka turut membawa sama agenda tersembunyi berupa penyebaran ideologi sesat Syi’ah Rafidhah. Penyebaran ajaran Syi'ah ke dalam kalangan masyarakat Islam di Malaysia adalah suatu yang wajib segera disekat. Kerana kesan dari ajaran ini begitu bahaya dan dahsyat sekali. Ia bukan sahaja mengancam aqidah dengan menghidupkan ritual dan kepercayaan-kepercayaan syirik, tetapi juga mengancam keselamatan dan keamanan negara. Gerakan Syi'ah adalah gerakan radikal pemberontakan ala 'Abdullah B. Saba' yang dimulakan melalui serangan tunjang-tunjang aqidah umat Islam.


Lebih-lebih lagi demonstrasi itu sendiri bukanlah suatu yang datang dari ajaran Islam, apatah lagi cuba diatasnamakan sebagai jihad dan amar ma’ruf nahi mungkar pula. Ini jelas melanggar kesucian dan kemuliaan jihad dan amar ma’ruf nahi mungkar itu sendiri.

Imam asy-Syaukani rahimahullah (Wafat: 1250H) telah menyatakan secara umum kepada kita semua:


ويؤدب من يثبط عنه" فالواجب دفعه عن هذا التثبيط فإن كف وإلا كان مستحقا لتغليظ العقوبة والحيلولة بينه وبين من صار يسعى لديه بالتثبيط بحبس أو غيره لأنه مرتكب لمحرم عظيم وساع في إثارة فتنة تراق بسببها الدماء وتهتك عندها الحرم وفي هذا التثبيط نزع ليده من طاعة الإمام


“Orang yang melakukan provokasi dan kekacauan (membakar emosi rakyat) untuk membenci pemerintah, mereka wajib diberi hukuman, maka yang diwajibkan adalah menghentikan perbuatannya (agar tidak timbul kekacauan). Jika mereka tidak juga berhenti dari melakukan kekacauan (provokasi tersebut), maka mereka berhak mendapat hukuman yang berat dan dipisahkan daripada orang-orang yang mereka provokasikan, sama ada dengan cara dipenjara atau selainnya. Ini adalah kerana mereka telah melakukan suatu perkara yang sangat-sangat diharamkan dan dalam masa yang sama telah berusaha menebar fitnah yang berpotensi mengakibatkan pertumpahan darah serta mencemarkan kehormatan yang menodai harga diri. Provokasi seperti inilah yang menyebabkan seseorang keluar dari ketaatan terhadap pemerintah.” (asy-Syaukani, as-Sailul Jarrar, 1/942 – Maktabah Syamilah)

Dalam beberapa hadis berkenaan orang-orang yang bertindak memisahkan diri daripada jama’ah pemerintah muslim, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda:


لَا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَّا بِإِحْدَى ثَلَاثٍ الثَّيِّبُ الزَّانِي وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ وَالتَّارِكُ لِدِينِهِ الْمُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ


“Tidak halal darah seorang muslim untuk ditumpahkan apabila dia mengakui bahawa tiada tuhan yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah, dan aku adalah utusan Allah melainkan dengan salah satu dari tiga perkara:

1. Seseorang yang telah menikah tetapi kemudiannya dia berzina,

2. Membunuh orang lain, dan

3. Orang yang meninggalkan agama dengan cara memisahkan dirinya dari al-jama’ah.” (Hadis Riwayat Muslim, 9/25, no. 3175)

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata ketika mensyarahkan hadis ini:


وأما قوله صلى الله عليه و سلم والتارك لدينه المفارق للجماعة فهو عام في كل مرتد عن الإسلام بأي ردة كانت فيجب قتله إن لم يرجع إلى الإسلام قال العلماء ويتناول أيضا كل خارج عن الجماعة ببدعة أو بغي أوغيرهما وكذا الخوارج والله أعلم


“Adapun sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Orang yang meninggalkan agama dengan cara memisahkan dirinya dari al-jama’ah” adalah bersifat umum bagi setiap orang yang murtad keluar dari Islam dengan setiap cara dan bentuknya, wajib untuk dibunuh sekiranya dia enggan bertaubat. Para ulama mengatakan:

Termasuk juga dalam maksud hadis ini adalah setiap orang yang keluar dari ketataan kepada pemerintah muslim dengan melakukan kebid’ahan, berkhianat, atau selainnya, demikian pula al-khawarij, wallahu a’lam.” (an-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, 11/165)

Maka fikirkanlah bagaimana dengan orang yang memberontak kepada para pemerintah atas tiket ideologi Syi’ah Rafidhah sebagai panutannya?

Berkenaan mereka yang bertindak memecah-belahkan kesatuan umat Islam yang telah memiliki pemimpin, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:


إِنَّهُ سَتَكُونُ هَنَاتٌ وَهَنَاتٌ فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُفَرِّقَ أَمْرَ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَهِيَ جَمِيعٌ فَاضْرِبُوهُ بِالسَّيْفِ كَائِنًا مَنْ كَانَ


“Sesungguhnya akan berlaku bencana dan malapetaka, maka sesiapa yang hendak memecah-belah urusan umat ini sedangkan umat tersebut telah bersatu, bunuhlah mereka dengan pedang walau siapapun orangnya.” (Hadis Riwayat Muslim, 9/395, no. 3442)

Dalam riwayat yang lain disebutkan:


مَنْ أَتَاكُمْ وَأَمْرُكُمْ جَمِيعٌ عَلَى رَجُلٍ وَاحِدٍ يُرِيدُ أَنْ يَشُقَّ عَصَاكُمْ أَوْ يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ فَاقْتُلُوهُ


“Siapa sahaja yang datang kepada kamu sedangkan urusan kamu telah berada di tangan seorang pemimpin, kemudian dia bertindak menggugat kedudukan pemimpin kamu atau memecah-belahkan perpaduan di antara kamu, maka bunuhlah orang tersebut.” (Hadis Riwayat Muslim, 9/395, no. 3443)

Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahawa:


فيه الأمر بقتال من خرج على الإمام أو أراد تفريق كلمة المسلمين ونحو ذلك وينهى عن ذلك فإن لم ينته قوتل وإن لم يندفع شره إلا بقتله فقتل


“Di dalamnya terdapat perintah untuk membunuh orang yang keluar melakukan penentangan kepada seseorang pemimpin, atau hendak memecah-belah kesatuan (perpaduan) umat Islam dan selainnya. Orang tersebut hendaklah ditegah dari meneruskan perbuatannya, sekiranya ia tidak mahu menghentikannya maka hendaklah diperangi. Apabila kejahatannya tidak dapat dihalang melainkan dengan cara demikian, maka membunuhnya adalah perkara yang dihalalkan.” (an-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, 12/241)

Imam ash-Shan’ani menyebutkan perkara yang sama dengan katanya:


دلت هذه الألفاظ على أن من خرج على إمام قد اجتمعت عليه كلمة المسلمين والمراد أهل قطر كما قلناه فإنه قد استحق القتل لإدخاله الضرر على العباد وظاهره سواء كان جائرا أو عادلا وقد جاء في أحاديث تقييد ذلك بما أقاموا الصلاة وفي لفظ ما لم تروا كفرا بواحا


Hadis di atas dengan pelbagai bentuk lafaz dan susunannya telah menunjukkan bahawa sesiapa yang keluar (tidak mentaati) seseorang pemimpin yang telah disepakati oleh umat Islam dalam sesebuah wilayah (kawasan atau negara), maka dia berhak dibunuh kerana akan menimbulkan kerosakan kepada manusia sama ada pemimpin tersebut seorang yang adil ataupun yang zalim selagi mana mereka masih menegakkan solat sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa hadis atau dalam hadis yang lain disebutkan, “Selagi kamu tidak melihat kekufuran yang nyata”. (ash-Shan’ani, Subulus Salam, 3/261)

Begitu juga dengan imam asy-Syaukani rahimahullah. Beliau berkata, “Apabila terdapat segolongan pihak yang cuba merampas kuasa daripada seseorang pemerintah yang telah memiliki kedaulatan (kuasa) dan juga diberi bai’ah (kepercayaan) oleh penduduknya, maka pada ketika itu, hukuman ke atas golongan tersebut ialah dibunuh jika ia tidak bertaubat.” (asy-Syaukani, as-Sailul Jarrar, 1/941 - Maktabah Syamilah)

Berkaitan dengan ini, pernah berlaku dalam sejarah generasi sahabat di mana Khalifah Mu’awiyah B. Abi Sufyan radhiyallahu ‘ahu telah bertindak menahan dan menghukum bunuh Hujr B. Adi al-Kindi dengan sebab Hujr telah mencerca dan menunjukkan sikap kepembangkangan secara terbuka kepada gabernor Mu’awiyah di Kuffah. Sedangkan Hujr B. Adi al-Kindi adalah termasuk daripada kalangan sahabat (sahabat kecil), dan sebahagian ulama menyatakan beliau adalah tabi’in.

Tindakan Mu’awiyah tersebut tidak mendapat bantahan daripada kalangan sahabat yang lain, sebaliknya ia termasuk sebahagian kebenaran dan menjadi hak bagi seseorang pemimpin untuk mengelakkan fitnah dan huru-hara (bibit-bibit pemberontakan). (Rujuk penjelasannya dalam al-Awashim minal Qowashin oleh Imam al-Qadhi Abu Bakr Ibnul Arabi. Tahqiq: Muhibbudin al-Khatib, Mahmud al-Istanbuli, dan al-Maktab as-Salafi)

Renungan

Secara logiknya, tidak akan ada umat Islam yang sahih lagi murni aqidah dan manhajnya akan mengambil Iran sebagai kiblat dalam politik Islam dan menjadikan imam-imam Syi’ah yang jelas memusuhi para sahabat Rasul sebagai pedoman mahupun idola! Kefahaman agama yang dibawa oleh Syi'ah adalah fahaman yang rosak dan menyesatkan.

Juga tidak ada alasan yang syar’i bagi seorang Ahlus Sunnah untuk bersama-sama dengan pengaku pejuang Islam yang menzahirkan terang-terangan dukungannya ke atas tokoh-tokoh Syi'ah yang sesat lagi menyesatkan.

Sekiranya dengan UMNO dan para pemimpin negara ini sahaja sudah begitu punya benci, tetapi kenapa dengan Syi'ah boleh disayang-sayang? Ada udang di sebalik batu atau bercita-cita untuk solat sama-sama berjama’ah di atas batu karbala?

Secara umum atau zahir pun kita boleh melihat beberapa indikasi awal di mana manusia itu boleh dikenali berdasarkan siapa idola-idola mereka. Manusia boleh diketahui dari puak mana berdasarkan tokoh-tokoh pujaannya.

Ikhwaniyun (pemuja firqah Ikhwanul Muslimin) tentu akan mendukung Hasan al-Banna, Sayyid Quthub, dan seterusnya.

Al-Qa'eda dan Jema’ah Islamiyah (J.I) akan mendukung ‘Abdullah Azzam, Mullah ‘Umar, Abu Muhammad Ashim al-Maqdisi, Aiman adz-Dzawahiri, dan Osama B. Laden.

Hizbut Tahrir tentu mendukung pula Taqiyuddin an-Nabhani.

Jama'ah Tabligh, akan mengangkat dan mengedepankan Zakaria al-Kandahlawi dan Maulana Ilyas.

Ahlus sunnah pula tentu akan mengedepankan hadis-hadis nabi dan atsar-atsar para sahabat dalam memahami al-Qur'an dalam agama ini. Mereka sentiasa mengedepankan imam-imam mereka sebagaimana dimaklumi. Iaitu seperti Para sahabat ridhwanullah ‘alaihim ajma’in, tokoh-tokoh ulama tabi’in, dan imam-imam seperti Abu Hanifah, Malik, asy-Syafi’i, Ahmad B. Hanbal, Sufyan ats-Tsauri, Hasan al-Bashri, al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, an-Nawawi, Ibnu Katsir, Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Hajar dan yang lain seterusnya.

Dan sudah tentu mereka akan mengajak pula masyarakat supaya berpedoman kepada manhaj atau prinsip-prinsip para imam ahlus sunnah ini, iaitu prinsip generasi salafush sholeh.

Berbeza jika mereka adalah Syi'ah dan para pendukungnya! Siapakah idola mereka? Apakah mereka mahu mengajak umat utk berpedoman kepada hadis-hadis nabi dan atsar-atsar para sahabat? Apakah mereka sudi mengajak masyarakat supaya menyelami khazanah ilmu ahlus sunnah wal-jama’ah dari kalangan imam-imam seperti yang penulis sebutkan tadi?

Jadi, di mana tokoh-tokoh pujaan PAS terutamanya Mat Sabu selaku pencetus utama demonstrasi BERSIH? Siapakah imam tempat beliau berpedoman??? Kalau bukan Sang Khomeini laknatullah ‘alaih pencaci para sahabat Rasul! Siapakah tokoh panutan beliau? Kalau bukan Hasan Nasrallah yang bekerjasama dengan Yahudi membunuh ahlus sunnah di Lubnan! Merekalah manusia yang paling kuat memusuhi ahlus sunnah bahkan mengajak kaumnya melaknat dan membunuh ahlus sunnah.

Merekalah Imam pencela Ummul Mukminin isteri-isteri Rasulullah dan tokoh para pencela sahabat-sahabat Rasul ridhwanullah ‘alaihim ajma’in.

Inikah imam pujaan seorang pengaku pejuang Islam??? Fikir-fikirkanlah wahai para pemuja demonstrasi yang mengaku bermazhab Ahlus Sunnah wal-Jama’ah! Kembalilah kalian untuk berpegang kepada hadis-hadis Nabi dalam tindakanmu. Tinggalkan tokoh-tokoh perosak agama sang penyeru kepada pintu-pintu jahannam.

Imam Fudhail b. 'Iyadh rahimahullah (Wafat: 187H) mengingatkan:


صَاحِبُ بِدْعَةٍ لَا تَأْمَنْهُ عَلَى دِينِكَ، وَلَا تُشَاوِرْهُ فِي أَمْرِكَ، وَلَا تَجْلِسْ إِلَيْهِ، وَمَنْ جَلَسَ إِلَى صَاحِبِ بِدْعَةٍ، أَوْرَثَهُ اللَّهُ الْعَمَى. يَعْنِي فِي قَلْبِهِ


“Janganlah kamu beri kepercayaan kepada ahli bid’ah dalam urusan agamamu, jangan kamu bermesyuarat dengannya dalam urusanmu, dan jangan kamu duduk-duduk dengannya. Siapa yang duduk dengan ahli Bid'ah, Allah akan mewariskan baginya kebutaan. Yakni (kebutaan) di hatinya.” (al-Lalikaa’i, Syarah Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah wal-Jama’ah, 1/138, no. 264)

Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah (Wafat: 728H) menyatakan:


سئل مالك عن الرافضة فقال لا تكلمهم ولا ترو عنهم فإنهم يكذبون


Imam Malik pernah ditanya tentang Syi'ah Rafidhah, maka beliau pun berkata, “Janganlah kamu bercakap dengan mereka dan jangan kamu meriwayatkan hadis daripada mereka kerana mereka adalah pendusta.” (Rujuk: Ibnu Taimiyyah, Minhajus Sunnah, 1/26)

Dalam praktik agama dan aqidah Syi’ah, bercakap bohong di hadapan ahlus sunnah adalah suatu kewajiban dan termasuk amalan yang mulia. Oleh sebab itulah pada satu-satu keadaan tertentu kita sukar mengesan identiti sebenar mereka kerana mereka gemar berdusta (bertaqiyyah).

Tetapi apabila mereka kembali bersama-sama dengan kelompok mereka, mereka akan menukar kembali wajah dusta mereka. Kerana itulah jika kita melihat rakaman ucapan-ucapan mereka di hadapan kaum mereka, jelas mereka adalah kelompok yang kuat mencaci dan mencela ahlus sunnah termasuk ummul mukminin dan para sahabat Rasulullah. Berbanding sekiranya mereka duduk di hadapan kita, seolah-olah semuanya nampak baik dan biasa-biasa sahaja sehingga orang yang jahil akan mudah tertipu dan terperangkap dengan karektor talam dua muka mereka ini.

Wallahu a’lam.

Sumber : http://bahaya-syirik.blogspot.com/2011/06/127-semangat-syiah-dalam-demonstrasi.html

Selasa, 24 Mei 2011

Nasib Pemerintah Kaum Muslimin Yang Ke-Enam


Ibn al-Jawziy menceritakan daripada Abu Bakr al-Suliy beliau berkata “Orang ramai mengatakan setiap orang keenam yang memerintah akan dipecat semenjak zaman permulaan Islam lagi".

Ibn al-Jawziy berkata “Aku mengkaji perkara tersebut dan aku terkejut dengan hasilnya. Pada permulaan zaman Islam pemimpinnya adalah Rasulullah saw selepas itu Abu Bakr, kemudian Omar dan diikuti Osman dan Ali. Selepas itu Hasan. Beliau telah dipecat oleh Muawiyah (maksudnya menyerahkan urusan Khilafah kepada Muawiyah).

Selepas Muawiyah, pemerintahan telah diteruskan oleh Yazid, diikuti oleh Muawiyah ibn Yazid, diteruskan pula oleh Marwan kemudiannya Abd. Malik. Selepas itu pemerintahan diteruskan oleh Abdullah ibn Zubair. Beliau telah dipecat dan dibunuh.

Selepas itu pemerintahan diteruskan oleh al-Walid. Kemudiannya Sulaiman, selepas itu Omar ibn Abd Aziz, kemudiannya Yazid, kemudiannya Hisham. Selepas itu al-Walid ibn Yazid memerintah. Beliau akhirnya dipecat dan dibunuh.

Selepas itu Bani Umayyah tidak lagi menjadi pemerintah sehinggalah al-Sufah al-Abbasiy menjadi pemerintah. Selepas itu pemerintah diambil alih oleh saudaranya al-Mansur, kemudiannya al-Mahdi diikuti oleh al-Hadi, kemudiannya dipegang oleh al-Rashid kemudiannya diberikan kepada al-Amir. Beliau telah dipecat dan dibunuh.

Selepas itu tampuk pemerintahan berada ditangan al-Ma’mun, kemudian dipegang oleh al-Mu’tasim, kemudiannya al-Wathiq, al-Mutawakkil, kemudiannya al-Muntasir dan selepas itu dipegang oleh al-Musta’in. Beliau telah dipecat dan dibunuh.

Setelah itu tampuk pemerintahan dipegang oleh al-Mu’taz, diikuti selepasnya oleh al-Muhtada, kemudiannya al-Mu’tamid, kemudiannya al-Mu’tadid dan kemudiannya al-Muktafiy. Selepas itu pemerintahan dipegang oleh al-Muqtadar. Beliau telah dipecat kemudian dilantik semula dan akhirnya beliau dibunuh.

Selepas itu jawatan pemerintah diambil alih oleh al-Qahir, kemudiannya al-Radiy, kemudiannya al-Muttaqi, al-Muktafi, al-Mut’iy dan selepas itu diberikan kepada al-Tai’iy. Beliau telah dipecat.

Kemudian jawatan tersebut diserahkan kepada al-Qadir, kemudiannya al-Qaim, kemudiannya al-Muqtadi, kemudiannya al-Mustazhir, kemudiannya al-Mustarshid dan akhirnya al-Rashid. Beliau telah dipecat dan dibunuh. (Khalifah al-Rashid dibunuh pada tahun 532 Hijrah)

Sumber : al-Bidayah Wa an-Nihayah jilid 12 mukasurat 287-288 karangan Abu al Fida’ al-Hafiz Ismail ibn Kathir

Isnin, 9 Mei 2011

Kisah Pembakaran al-Suhuf (Helaian al-Quran) oleh Saidina Osman ibn Affan ra – Bahagian 2


Al-Waqidiy berkata bahawa Ibn Abu Sibrah telah menceritakan kepada kami daripada Suhail ibn Abu Salih daripada ayahnya daripada Abu Hurairah dengan wajah (gaya bahasa) yang lain. Sewaktu Osman selesai membukukan al-Mashaf tersebut, Abu Hurairah dating bertemu dengan beliau dan berkata “Benar dan tepat sekali apa yang engkau lakukan itu dan Allah swt telah memberikan taufiknya kepadamu. Aku bersumpah bahawa aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda “Sesungguhnya umatku yang paling aku sayangi ialah mereka yang hidup selepas aku tetapi beriman denganku walaupun mereka tidak pernah bertemu denganku. Mereka itu beramal mengikut ajaran yang terdapat dalam al-Waraq al-Muallaq (Kertas Yang Tergantung)” Aku pun bertanya “Kertas apa?” Baginda menjawab “Kamu akan faham setelah kamu melihat al-masahi (Al-Quran Yang Dibukukan).”

Setelah mendengar hadis tersebut, Osman berasa begitu gembira sekali dan menghadiahkan kepada Abu Hurairah wang sebanyak 10,000 (dirham). Dan beliau terus berkata “Demi Allah! Aku benar-benar tidak mengetahui engkau masih ada menyimpan hadis Nabi kita saw daripada pengetahuan kami”. Kemudiannya mana-mana mashaf yang masih tersimpan ditangan orang ramai yang berlainan daripada mashaf yang beliau tulis (susun) dikumpul dan dibakar. Tindakan ini diambil untuk mengelakkan berlakunya perselisihan.

Maka Abu Bakr ibn Abu Daud berkata dalam kitab al-Masahif, Muhammad ibn Bashar telah menceritakan kepada kami, Muhammad ibn Jaafar dan Abd. Rahman telah menceritakan kepada kami, kedua-duanya berkata bahawa Syukbah telah menceritakan kepada kami daripada Alqamah ibn Marthad daripada seorang lelaki daripada Suwayd ibn Ghaflah yang berkata, Ali telah berkata kepadaku sewaktu Osman membakar al-Masahif “Andaikata beliau (Osman) tidak melakukannya, pasti aku yang akan melakukannya”. Begitulah juga yang diriwayatkan oleh Abu Daud al-Tayalisiy dan Amru ibn Marzuq daripada Syukbah.

Al-Baihaqi dan yang lain-lain telah meriwayatkan hadis daripada Muhammad ibn Aban (Suami kepada adik perempuan Hussein) daripada Alqamah ibn Marthad yang berkata “Aku telah mendengar al-Izar ibn Jarwal yang mendengar Suwaid ibn Ghaflah berkata, Ali pernah berkata “Wahai manusia! Jauhilah daripada bersikap melampau terhadap Osman. Kamu menuduh beliau telah membakar al-Mashaf (al-Quran). Demi Allah, beliau tidak membakarnya melainkan atas cadangan sahabat-sahabat Rasulullah juga. Sekiranya kamu berada ditempatnya kamu juga akan melakukan tindakan yang sama”.

Diriwayatkan daripada ibn Masud bahawa beliau telah memarahi (Osman) yang telah memberi arahan supaya mashafnya diambil dan dibakar. Dalam marahnya itu, beliau menyebut juga tentang pengislaman beliau terlebih awal daripada Zaid ibn Thabit, penulis mashaf baru itu. Dia juga telah menyuruh kawan-kawannya supaya mengingkari arahan tersebut dan menyembunyikan mashaf-mashaf mereka. Seterusnya dia membaca ayat al-Quran iaitu Allah swt berfirman “Dan sesiapa yang berkhianat (menggelapkan sesuatu), ia akan bawa bersama pada hari Kiamat kelak apa yang dikhianatinya itu”-Surah ali-Imran 3:161.

Osman yang menyedari tindakan ibn Masud itu telah menulis kepada beliau dan meminta supaya beliau mengikut jejak sahabat-sahabat lain yang telah memberi kata sepakat supaya al-Quran yang lama dibakar kerana kebaikan (maslahat) yang ada padanya. Osman juga meminta beliau supaya bersatu hati serta tidak berselisih pendapat. Ibn Masud mula menyedari kesalahannya lalu menjawab seruan Osman dengan menurut kata sepakat para sahabat dan mengelakkan perselisihan. Allah swt telah meredai kesemua mereka itu.

Sumber : al-Bidayah wa an-Nihayah jilid 7 mukasurat 335-336 karangan Abu al-Fida' al-Hafiz Ismail Ibn Kathir

Rabu, 20 April 2011

Perbezaan Ahli Sunnah Dengan Golongan Lain - Bahagian 2


Ahli Sunnah adalah orang yang paling mengetahui hal ehwal Rasul, baik berupa perkataan mahupun perbuatan-perbuatannya serta yang paling besar kecintaan dan kesetiaan baik terhadap Sunnahnya mahu pun pendokongnya.

Orang yang paling berhak dikategorikan sebagai firqah an-Najiah adalah ahli Hadis dan as-Sunnah iaitu yang tetap mengikuti dan bertaksub kepada Rasulullah saw. Merekalah yang paling mengetahui perkataan nabi dan hal ehwalnya.

Disamping itu, mereka memiliki perhatian besar dalam mempertimbangkan antara riwayat-riwayat yang sahih dan yang lemah.

Imam-imam mereka adalah orang yang benar-benar mengetahui hadis dan mengetahui maknanya, mengikutinya, mengamalkannya, membenarkannya, mencintainya serta menaruh hormat kepada orang yang menghormatinya dan memusuhi orang yang memusuhinya.

Mereka meriwayatkan perkataan-perkataan yang global, lalu menjelaskannya dengan merujuk kitab (al-Quran) dan al-hikmah (as-Sunnah)

Sumber :Ahli Sunnah Wal Jamaah : Kenapa Perlu Dipertahankan Di Nusantara Karangan Haji Jainal Sakiban al-Jauhari Terbitan Majlis Agama Islam Negeri Johor m/s 27-28

Isnin, 11 April 2011

Syair Nasr ibn Mansur al-Numayriy


Beliau pernah ditanya tentang mazhab dan pegangannya, lalu beliau bersyair. Syairnya berbunyi :-

“Aku mencintai Ali, Fatimah dan anak-anaknya,
Dan aku tidak akan mengingkari terhadap Abu Bakr dan Omar al-Khattab,
Aku tidak menyintai orang yang telah menyakiti Osman,
Sepertimana aku membenci hamba Ibn Muljam,
Aku sangat mengkagumi ahli hadis kerana kebenaran mereka,
Dan aku tidak akan menyukai kaum yang lain selain mereka (Ahli hadis)”


Beliau meninggal di Baghdad pada tahun 588 Hijrah dan telah dikebumikan di tanah perkuburan para syuhada’ yang terletak di Bab al-Harb.

Sumber : al-Bidayah Wa an-Nihayah jilid12 mukasurat 458 karangan Abu al Fida’ al-Hafiz Ismail ibn Kathir

Jumaat, 8 April 2011

Kenali Sahabat Nabi : Al-Mughirah ibn Syukbah


Nama penuhnya ialah al-Mughirah ibn Syukbah ibn Abu Amir ibn Masud Abu Isa atau juga biasa dipanggil Abu Abdullah al-Thaqafiy. Urwah ibn Masud al-Thaqafiy pula ialah bapa saudara bapanya (datuk saudara al-Mughirah). Beliau termasuk dikalangan tokoh Arab yang terkemuka lagi disegani kerana mempunyai akal yang tajam dan pandangan-pandangan yang bernas. Beliau memeluk Islam selepas peperangan Khandaq selepas 13 orang dari Bani Thaqif terbunuh. Mereka terbunuh sewaktu melarikan diri dari Raja al-Muqauqis. Lalu Urwah ibn Masud membayar diah mereka.

Al-Mughirah menyertai Perjanjian Hudaibiyah. Beliau berdiri disisi Rasulullah saw sambil memegang sebilah pedang yang terhunus. Rasulullah saw telah menghantarnya dan Abu Suffian ibn Harb untuk menghancurkan berhala al-Lata, selepas penduduk Taif memeluk Islam.

Abu Bakr al-Siddiq telah menghantarnya ke al-Bahrain. Beliau turut menyertai Peperangan al-Yamamah dan Yarmuk, dan pada peperangan Yarmuk, matanya buta setelah dilukai. Namun menurut satu pendapat, beliau melihat kearah matahari yang sedang gerhana, lalu penglihatannya menjadi buta.

Beliau turut menyertai Peperangan al-Qadisiyyah. Omar ra telah melantiknya sebagai ketua tentera dalam beberapa siri pembukaan antaranya Hamadan dan Maysan. Beliau juga merupakan utusan Sa’d kepada Rustam yang mampu mengucapkan kata-kata yang fasih, jelas dan sedap didengar dihadapan raja tersebut. Omar ra melantiknya sebagai gabenor Basrah. Apabila ada pihak yang menuduh bahawa beliau melakukan zina, sedangkan tuduhan itu tidak sabit bahawa Omar ra melucutkan jawatannya, lalu beliau (Omar) melantiknya untuk mentadbir Kufah pula.

Pada zaman Osman ra, jawatan yang disandang oleh al-Mughirah di Kufah tidak kekal lama kerana tidak lama kemudian beliau dipecat. Beliau terus hidup mengasingkan diri sehingga tiba peristiwa Tahkim. Beliau pun menemui Muawiyah dan menyebelahinya. Selepas Ali dibunuh, dan berlaku penyerahan jawatan (kuasa oleh) Hasan kepada Muawiyah, Muawiyah melantiknya sebagai penguasa (pentadbir) Kufah seperti sebelumnya. Beliau kekal menjawat jawatan sehinggalah meninggal dunia pada tahun ini (50 Hijrah) menurut pendapat yang mahsyur. Kenyataan ini dipegang oleh Muhammad ibn Sa’d dan yang lain-lain.

Al-Khatib pula menyebut bahawa pendapat diatas telah disepakati oleh kaum muslimin. Kematian al-Mughirah berlaku pada bulan Ramadhan ketika berusia 70 tahun. Abu Ubaid pula menegaskan al-Mughirah meninggal dunia pada tahun 49 Hijrah, sementara Ibn Abd al-Barr berpendapat pada tahun 51 Hijrah. Kemudian periwayat-periwayat yang lain ada berpendapat 58 Hijrah bahkan ada yang berpendapat tahun 36 Hijrah. Pendapat yang terakhir ini ternyata jelas kesalahannya.

Muhammad ibn Sa’d mencatatkan bahawa al-Mughirah mempunyai rambut yang sangat perang, mudah ketawa menampakkan gusinya, kedua-dua bibirnya mengerut, berkepala besar dan memiliki tangan yang besar serta jauh jarak antara dua bahunya (bertubuh besar). Beliau menyisir rambutnya empat kali sehari.

Al-Sha’biy berkata bahawa al-qudat (hakim yang adil) ada empat iaitu Abu Bakr, Omar, Ibn Mas’ud dan Abu Musa. Sementara itu al-dahat (orang yang bijaksana, licik dan banyak muslihatnya) juga ada empat iaitu Muawiyah, Amru, al-Mughirah dan Ziyad.
Al-Zuhriy pula menyatakan bahawa al-dahat dalam perkara fitnah ada lima iaitu Muawiyah, Amru ibn al-As, al-Mughirah ibn Syukbah yang berkecuali dalam peristiwa Tahkim, Qays Sa’d ibn Ubadah dan Abdullah ibn Budayl ibn Waraqa kedua-duanya bersama Ali.

Sumber : al-Bidayah Wa an-Nahayah jilid 8 mukasurat 73-74 karangan Abu al Fida’ al-Hafiz Ismail ibn Kathir

Selasa, 5 April 2011

Surah al-Ahzab Ayat 33-Bahagian 2


Abdu bin Humaid menceritakan kepada kami, Affan bin Muslim memberitahukan kepada kami, Hammad bin Salamah memberitahukan kepada kami Ali bin Zaid memberitahukan kepada kami dari Anas bin Malik bahawa Rasulullah saw berjalan melewati pintu Fatimah selama enam bulan apabila beliau keluar untuk melakukan solat dengan bersabda “Datang waktu solat hai Ahlul Bait!” (Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa dari kamu hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya-Surah al-Ahzab : Ayat 33)

Hadis ini adalah hadis Hasan Gharib, dari sanad ini yang aku mengetahuinya hanya dari hadis Hammad bin Salamah. Dan dalam bab ini terdapat hadis dari Abil Hamra’ Ma’qil bin Yasar dan Ummu Salamah.

(Sunan at-Tirmizi Jilid 5 hadis no. 3259)

Peristiwa Penyerahan Urusan Khalifah Dari Saidina Hasan Bin Ali Bin Abu Talib Kepada Saidina Muawiyah Bin Abu Suffian


Ibnu Jarir mencatatkan bahawa pada tahun ini (41 Hijrah), al-Hasan bin Ali menyerahkan urusan khilafah kepada Muawiyah Bin Abu Suffian. Kemudian beliau (Ibn Jarir) meriwayatkan daripada al-Zuhriy yang berkata “Selepas penduduk Iraq melakukan baiah kepada al-Hasan bin Ali, beliau meletakkan syarat bahawa mereka mesti mematuhi dan mentaati setiap perintahnya, bersedia untuk berdamai (dengan sesiapa yang dia berdamai) dan berperang (dengan sesiapa yang dia perangi)”. Penduduk Iraq berasa ragu-ragu dengan syarat tersebut. Mereka berkata sesame sendiri “Apakah yang cuba dilakukan al-Hasan ini?” Kegelisahan yang menghantui mereka menyebabkan pelbagai tuduhan dibuat terhadapnya. Mereka mula membenci al-Hasan dan pada masa yang sama kebingungan mereka semakin bertambah. Tindakan tersebut menyebabkan al-Hasan meyakini bahawa mereka tidak menyetujui segala pendapatnya bahkan menyatakan ketidaksanggupan untuk menyokongnya lagi. Beliau pun menghantar surat kepada Muawiyah untuk melaksanakan perdamaian yang ditentukan oleh kedua-dua belah pihak.

Imam al-Bukhari menyebutkan sebuah riwayat dalam bab al-Sulh (perdamaian) bahawa Abdullah ibn Muhammad telah menceritakan kepadaku, Sufyan telah menceritakan kepadaku daripada Abu Musa yang berkata bahawa beliau pernah mendengar Hasan berkata “Demi Allah, Hasan ibn Ali telah menghantar beberapa ketumbukan tentera kepada Muawiyah bin Abu Suffian umpama bukit bukau (gunung ganang)!” Amru ibn al-As pula berkata “Sesungguhnya aku telah melihat dengan kekuatan yang sama banyaknya!”. Muawiyah berkata “Sekiranya mereka (penduduk Sham) membunuh mereka (penduduk Iraq), maka siapakah bagi pihak aku yang akan menjalankan urusan kehidupan kaum muslimin? Siapakah yang akan membantu golongan-golongan lemah dikalangan yang akan membantu kaum wanita mereka?” Oleh itu beliau menghantar dua orang lelaki Quraish daripada kelompok Bani Abd Shamsin iaitu Abd. Rahman ibn Samurrah dan Abdullah ibn Umayr kepada al-Hasan. Sebelum mereka pergi beliau berpesan “Pergilah kamu berdua kepada lelaki ini (al-Hasan). Ceritakanlah masalah ini kepadanya dan mintalah sesuatu daripadanya!”. Mereka terus bergegas menemui al-Hasan lalu berbuat seperti yang diarahkan oleh Muawiyah. Al-Hasan pun menjawab “Sesungguhnya kami anak-anak (keturunan) Abd al-Muttalib telah menerima harta (kekuasaan) ini akan tetapi umat Islam ini telah memboroskannya untuk kepentingan mereka sendiri!” Kedua-duanya berkata “Kami hanya menjalankan tugas kami kerana Muawiyah menawarkan kamu sekian, sambil menuntut sesuatu daripada kamu dan seterusnya melakukan perdamaian denganmu”. Al-Hasan segera bertanya “Siapakah aku untuk campur tangan dalam urusan ini?” Mereka menjawab “Kami juga sependapat denganmu!” Dalam dialog-dailog yang seterusnya menyatakan bahawa apabila al-Hasan bertanya kepada mereka, mereka akan menjawab dengan jawapan yang sama seperti diatas dengan tambahan “Berdamailah dengannya”.
Kemudian al-Hasan berkata “Aku telah mendengar Abu Bukrah bercerita “Aku melihat Rasulullah saw berada diatas mimbar sedangkan al-Hasan bin Ali berada disisinya. Dia memandang orang ramai dan kemudian ke arahnya. Baginda pun bersabda “Sesungguhnya anakku (cucuku) ini bakal menjadi ketua atau sayyid. Semoga Allah swt menjadikannya pendamai antara dua puak yang besar daripada orang-orang Islam!”

Imam Bukhari meriwayatkan bahawa Ali Bin al-Madiniy telah berkata kepadanya “Sesungguhnya telah thabit (jelas) di sisi kita tentang al-Hasan ibn Abu Bukrah yang telah mendengar hadis ini! Al-Bukhari turut mencatatkan hadis ini dalam bab al-Fitan (Fitnah-Fitnah) dengan memetiknya daripada Ali ibn Abdullah anak kepada al-Madiniy daripada Sufyan dan dalam bab Fadail al-Hasan (Keistimewaan al-Hasan) dengan memetiknya daripada Sadaqah ibn al-Fadl daripada Sufyan juga.
Imam Ahmad turut mencatatkannya daripada Sufyan yakni anak Uyainah daripada Israil ibn Musa al-Basriy dengan lafaz yang sama. Beliau turut mencatatkannya dalam kitab Dalail al-Nubuwwah daripada Abdullah ibn Muhammad anak Abu Syaibah dan Yahya ibn Adam, kedua-duanya daripada Husein ibn Ali al-Ja’fiy daripada Israil daripada Hasan al-Basriy dengan lafaz yang sama. Riwayat ini turut dikeluarkan oleh Ahmad, Abu Daud dan al-Nasaiy melalui hadis Hammad ibn Zaid daripada Ali bin Zaid daripada Hasan al-Basri, turut diriwayatkan oleh Abu Daud dan al-Tirmizi melalui Ash’ath daripada hasan al-Basri. Imam al-Tirmizi menambah bahawa kedudukan hadis tersebut ialah hasan sahih. Al-Nasai pula meriwayatkannya melalui Awf al-A’rabiy dan yang lain-lain daripada Hasan al-Basri secara mursal.

Imam Ahmad menyebutkan sebuah hadis lagi bahawa Abd. Razzaq telah menceritakan kepadaku Ma’mar telah menceritakan kepadaku daripada perkhabaran orang yang mendengar Hasan al-Basri daripada Abu Bukrah yang berkata “Rasulullah saw pernah bercerita kepada kami pada suatu hari sedangkan al-Hasan bin Ali berada didalam biliknya (bilik baginda)”. Baginda mengadap para sahabatnya lalu menyambung ceritanya. Kemudian, berpaling kepada Hasan lalu memciumnya lalu bersabda “Wahai manusia, sesungguhnya anakku (cucuku) ini bakal menjadi sayyid (ketua). Jika ia masih hidup ia bakal mendamaikan dua buah kumpulan besar daripada kaum muslimin!”.
Al-Hafiz Ibn Asakir pula menyatakan bahawa demikianlah juga hadis yang dicatatkan oleh Ma’mar tetapi beliau tidak menamakannya orang yang telah menceritakan kepadanya daripada al-Hasan. Terdapat sebuah kelompok besar daripada kalangan ulama hadis yang telah meriwayatkannya daripada al-Hasan yang diantaranya ialah Abu Musa Israil, Yunus bin Ubaid, Mansur ibn Zadhan, Ali ibn Zaid, Hisham ibn Hasan, Ash’ath ibn Sawwar, al-Mubarak ibn Fudalah dan Amru ibn Ubaid al-Qadri. Selepas itu Ibn Asakir bertindak meletakkan jalan-jalan hadis untuk kesemua riwayat tersebut. Lalu jadilah riwayat-riwayat tersebut lebih jelas dan tepat.

Penulis (Ibnu Kathir) pula menjelaskan bahawa pada zahirnya, Ma’mar meriwayatkannya daripada Amru ibn Ubaid tetapi tidak pula menjelaskan nama Amru ibn Ubaid dalam riwayatnya. Muhammad ibn Ishak ibn Yasar pula turut meriwayatkannya daripada Amru ibn Ubaid tetapi beliau menamakan sekali diri Amru dalam riwayatnya. Ahmad ibn Hisham pula meriwayatkannya daripada Mubarak ibn Fudalah daripada al-Hasan ibn Abu Bukrah, dia menyebut hadis bahawa al-Hasan berkata “Demi Allah, aku bersumpah dengan namaNya bahawa selepas al-Hasan ibn Ali dilantik sebagai Khalifah, tiadalah yang bergolak dalam pemerintahannya kecuali tempat berbekam sentiasa dipenuhi darah!”.
Guru penulis (Ibnu Kathir), Abu Hajjaj al-Muzziy menjelaskan dalam kitabnya bahawa hadis tersebut telah diriwayatkan oleh sebahagian daripada mereka (nama-nama yang disebutkan tadi) daripada al-Hasan ibn Abu Bukrah daripada Ummu Salamah. Hadis ini turut diriwayatkan oleh Jabir ibn Abdullah al-Ansari yang berkata bahawa Rasulullah saw pernah bersabda tentang al-Hasan ibn Ali “Sesungguhnya anakku (cucuku) ini bakal menjadi sayyid (ketua) yang dengan jawatan itu dengan izin Allah dia akan mendamaikan dua puak kaum muslimin!”.

Hadis yang sama turut diriwayatkan oleh Abd Rahman ibn Ma’mar daripada al-Mash dengan lafaz yang serupa. Abu Ya’la pula menyebut bahawa Abu Bakr telah menceritakan kepadaku, Zaid ibn al-Habbab telah menceritakan kepadaku, Muhammad ibn Salih al-Tamar al-Madaniy telah menceritakan kepadaku, Muhammad ibn Muslim ibn Abu Maryam telah menceritakan kepadaku daripada Said ibn Abu Said al-Madaniy yang bercerita “Ketika kami berkumpul bersama-sama Abu Hurairah, al-Hasan ibn Ali datang lalu member salam kepada kami. Abu Hurairah menjawab “Kesejahteraan jua keatasmu, wahai tuanku!”. Kemudian beliau berkata “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda bahawa al-Hasan bakal menjadi pemimpin”.

Abu al-Hasan Ali ibn Madini menyebutkan bahawa penyerahan kuasa khalifah yang dilakukan oleh al-Hasan bin Ali kepada Muawiyah berlaku pada hari Khamis bulan Rabiul Awwal tahun 41 Hijrah tetapi sebahagian yang lain menyatakan pada bulan Rabiul Akhir. Ada pula yang berpendapat pada awal bulan Jamadil Awwal. Wallahua’lam. Beliau (Abu al-Hasan Ali ibn Madini) menyebut lagi bahawa pada waktu itu juga, Muawiyah memasuki Kufah lalu berkhutbah dihadapan kaum muslimin selepas proses bai’ah selesai dijalankan.

Ibn Jarir menyebut pula bahawa Amru ibn al-As telah mencadangkan kepada Muawiyah supaya menyuruh al-Hasan ibn Ali berkhutbah (berucap) terlebih dahulu bagi mengisytiharkan penyerahan jawatannya kepada Muawiyah. Muawiyah menerima cadangan tersebut lalu meminta al-Hasan berbuat demikian. Al-Hasan berdiri lalu berucap. Selepas mengucapkan kesyukuran kepada Allah dengan memuji-mujiNya dan berselawat ke atas junjungan Nabi Muhammad saw beliau pun berkata, “Amma ba’du, Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya Allah telah member hidayah kepada kamu melalui orang yang lebih awal daripada kita dan melindungi darah kamu melalui golongan mutakhir kalangan kita. Sesungguhnya urusan ini (khilafah) mempunyai tempoh yang tertentu sedangkan dunia ini sentiasa berputar (masanya sentiasa berganti). Sesungguhnya Allah swt telah berfirman kepada Nabi Muhammad saw “Dan aku tidak mengetahui (mengapa dilambatkan balasan buruk yang dihanjikan kepada kamu itu), mungkin kelambatan itu menjadi satu sebab yang menambahkan azab kamu, dan disamping itu member kamu kesenangan hidup hingga ke suatu masa yang tertentu” (Surah al-anbiya’ 21 : 111). Apabila Muawiyah mendengar ucapan tersebut, beliau berasa sangat marah lalu menyuruhnya duduk sambil mengutuk Amru ibn al_as terhadap cadangannya itu. Sesungguhnya jiwa Muawiyah sentiasa berkeadaan demikian (marah kepada Amru) selepas peristiwa tersebut. Wallahua’lam.

Sementara itu, Abu Isa al-Tirmizi dalam kitab Jami’nya menyebutkan bahawa Mahmud ibn Ghaylan telah menceritakan kepadaku, Abu Daud al-Tayalisiy telah menceritakan kepadaku, al-Qasim ibn al-Fadl al-Haddaniy telah menceritakan kepadaku daripada Yusuf ibn Said yang berkata “Seorang lelaki bangun lalu menghampiri al-Hasan bin Ali selepas beliau (al-Hasan) berbai’ah kepada Muawiyah lalu berkata “Engkau telah menghitamkan wajah orang-orang Islam atau wahai penghitam orang-orang Islam” al-Hasan menjawab dengan tenang “Janganlah kamu menghinaku. Semoga Allah merahmati kamu. Sesungguhnya Nabi saw telah diperlihatkan keadaan Bani Umayyah lalu baginda berasa sedih”. Tiba-tiba turun ayat-ayat berikut “Sesungguhnya Kami telah mengurniakan kepadamu (wahai Muhammad) kebaikan yang banyak (didunia dan akhirat) (Surah al-Kauthar 108 :1). Wahai Muhammad itulah bahagian kamu, al-Kauthar merupakan nama sebatang sungai di syurga Allah swt. Berfirman lagi “Sesungguhnya kami telah menurunkan (al-Quran) ini pada malam lailatul Qadar. Dan apakah jalannya engkau dapat mengetahui apa dia kebesaran malam Lailatul Qadar itu? Malam Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan” (Surah al-Qadar 97:1-3) “Wahai Muhammad, yang akan memilikinya selepas kamu ialah Bani Umayyah!” Al-Fadl menyebut bahawa menurut perkiraannya tiada tambahan atau pengurangan daripada seribu bulan tersebut.
Imam al-Tirmizi menjelaskan pula bahawa hadis tersebut bertaraf gharib kerana ia hanya diketahui melalui hadis al-Qasim ibn al-Fadl yang thiqah. Beliau diiktiraf thiqah oleh Yahya al-Qattan dan Ibn Mahdiy. Gurunya ialah Yusuf ibn Saad atau juga dipanggil Yusif ibn Madhin lelaki yang tidak dikenali. Al-Tirmizi menyatakan lagi bahawa lafaz hadis yang sedemikian hanya diketahui daripada hadis yang diriwayatkan daripada al-Qasim ibn al-Fadl ini. Oleh itu ia dianggap gharib bahkan sangat mungkar. Penulis (Ibnu Kathir) telah membincangkannya dalam kitab tafsirannya dan berasa tidak perlu untuk mengulangnya. Penulis turut menjelaskan bentuk nakirah hadis tersebut. Diri al-Qasim ibn al-Fadl juga turut dibincangkan. Wallahua’lam.

Al-hafiz Abu Bakr al-Khatib al-Baghdadi menyebut sebuah hadis bahawa Ibrahim ibn Mukhlid ibn Jaafar telah menceritakan kepadaku, Muhammad ibn Ahmad ibn Ibrahim al-Hakami telah menceritakan kepadaku, Abbas ibn Muhammad telah menceritakan kepadaku, Aswad ibn Amir telah menceritakan kepadaku, Zuhair ibn Muawiyah telah menceritakan kepadaku, Abu Rawq al-Hamdani telah menceritakan kepadaku, Abu al-Urayf telah menceritakan kepadaku yang berkata “Kami pernah bersama al-Hasan ibn Ali dibarisan tentera yang hadapan berjumlah 12,000 anggota disebuah tempat menuju ke al-Judd untuk memerangi penduduk Sham. Pemimpin pasukan tentera kami pada waktu itu ialah Abu al-Ghamartah. Apabila berita perdamaian yang dilakukan oleh al-Hasan ibn Ali datang kepada kami seolah-olah bahu kami patah lantaran berasa sangat marah.

Apabila al-Hasan tiba di Kufah, seorang lelaki daripada kalangan kami yang bernama Abu Amir Said ibn al-Natl menemuinya lalu berkata “Sejahtera ke atasmu wahai penghina kaum muslimin!” Al-Hasan menjawab “Janganlah berkata begitu wahai Amir. Aku bukan berniat menjadi penghina kaum muslimin akan tetapi yang sebenarnya aku enggan (tidak suka) memerangi mereka lantaran berebutkan kekuasaan”. Beliau memasuki kota Kufah dan menyampaikan ucapan yang akhirnya menghimpunkan dan menyatukan kekuasaan Islam dari seluruh pelosok dunia. Qays ibn Sa’d pula kembali semula (menyokongnya semula) yang pernah berazam menentang Muawiyah lalu menyatakan taat setianya yang tidak berbelah bahagi terhadap Muawiyah. Al-Hasan ibn Ali, al-Husein dan saudara-saudara mereka serta Abdullah ibn Ja’far (sepupu al-Hasan) pun meninggalkan bumi Iraq dan menuju ke Madinah al-Munawwarah. Setiap kali mereka melewati sesuatu puak penyokongnya, mereka akan mencela al-Hasan dengan keras kerana tindakannya melepaskan jawatan khalifah kepada Muawiyah begitu sahaja. Walaupun demikian, sebagai seorang yang mulia, bijak dan terpuji beliau tidak pernah berasa kecewa, kesal atau berdendam terhadap segala yang berlaku, berasa reda dan tenteram sekalipun ia sangat menyeksakan bagi pengikut, penyokong dan keluarganya. Keadaan yang bersarang dalam hati penyokong-penyokongnya berlarutan sehingga ke hari ini.

Dalam hal ini, penulis (Ibnu Kathir) lebih cenderung menegaskan bahawa tindakan yang dilakukan oleh al-Hasan adalah mengikut sunnah Rasulullah saw demi untuk melindungi darah umat Islam. Baginda turut mengesahkan tindakan beliau pada hadis sahih yang telah dibentangkan sebelum ini.

Sumber : al-Bidayah Wa an-Nahayah jilid 8 mukasurat 23 – 27 karangan Abu al Fida’ al-Hafiz Ismail ibn Kathir

Isnin, 28 Mac 2011

Hadis Berkenaan Mayat Tidak Diterima Bumi


Al-Bukhari menyebutkan bahawa Abu Muammar telah menceritakan kepada kami, Abd Razzaq telah menceritakan kepada kami daripada Anas bin Malik yang berkata “Seorang lelaki Nasrani telah menganut Islam lalu membaca Surah al-Baqarah dan Surah Ali Imran. Dia juga pernah menjadi jurutulis kepada nabi saw. Walaubagaimanapun, ia kembali ke agama asalnya, iaitu agama nasrani. Dengan megah dia berkata kepada kaumnya “Muhammad hanya tahu apa-apa yang telah aku tulis untuknya sahaja!” Lalu Allah mematikannya tidak lama kemudian. Mereka cuba menanam mayatnya tetapi mayat tersebut tidak dapat ditimbus kerana ia sentiasa terangkat ke permukaan. Mereka pun berkata “Ini adalah perbuatan Muhammad dan para sahabatnya – sewaktu dia lari daripada mereka, mereka pun menganiaya sahabat kita ini! –“ Kaum nasrani tersebut menggali sebuah lubang lagi dan cuba mengkebumikannya buat kali yang kedua tetapi usaha mereka menemui jalan buntu. Mayat tersebut berada dipermukaan tanah semula. Dengan peristiwa ini tahulah kaum nasrani tersebut bahawa kejadian seumpama diluar kemampuan manusia – ia bukanlah perbuatan nabi Muhammad saw – Oleh sebab itu, mereka membiarkan mayat tersebut begitu sahaja.

Sumber : al-Bidayah Wa an-Nahayah jilid 6 mukasurat 321 karangan Abu al Fida’ al-Hafiz Ismail ibn Kathir

Sabtu, 19 Februari 2011

Penilaian Semula Tarikh Kelahiran Nabi S.A.W


Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Penyayang

Puji-pujian bagi Allah Subhanahu wata’ala, selawat dan salam keatas junjungan kita Nabi Muhammad s.a.w. serta para sahabatnya.

Masyarakat Islam di negara kita umumnya menerima tarikh 12hb. Rabiul Awwal sebagai hari kelahiran Nabi Muhammad s.a.w. ( Maulidur Rasul ) . Fakta ini perlu di kaji semula kerana didapati bercanggah dengan fakta sejarah, hadis dan sains.

Disamping itu, sekiranya diterima juga tarikh wafat Nabi s.a.w. pada 12hb. Rabiul Awwal, (sebagaimana dipercayai umum), ia akan menimbulkan satu konflik di dalam jiwa masyarakat yang mana di satu pihak mereka merayakan kelahiran Nabi s.a.w. dan bergembira kerananya sedangkan di pihak lain pula pada hari yang sama sepatutnya mereka bersedih dan tidak boleh merayakan hari tersebut kerana ia juga merupakan hari kewafatan Nabi saw. Jadi di manakah adanya kewajaran masyarakat merayakan Maulidur Rasul yang juga merupakan hari perkabungannya? (Tanpa mengambil kira perayaan Maulidur Rasul itu sendiri adakah bersesuaian dengan sunnah atau ia satu bida’ah).

Di samping itu angka 12 yang dipilih untuk hari lahir dan hari wafat Nabi saw berkemungkinan besar berpunca daripada Syiah Imam Dua Belas. Justeru angka 12 ini bagi mereka merupakan angka sakti yang mereka kaitkan sekian banyak keistimewaan dengannya. Apalagi jika orang yang mula-mula mempopularkan tarikh ini adalah Ibnu Ishaq yang juga seorang Syiah. (Taqribut Tahdzib, Al Hafiz Ibnu Hajar al-Asqalani, jilid 2, halaman 144).

Pendapat yang menyatakan bahawa Nabi s.a.w. dilahirkan pada 12hb. Rabiul Awwal itu walaupun masyhur tetapi ia berasaskan riwayat yang lemah kerana ia berpunca daripada Ibmu Ishaq seperti mana yang diriwayatkan oleh Ibnu Hisyam di dalam kitab sirahnya. Menurut ulama-ulama rijal hadis, Ibnu Ishaq selain dianggap sebagai seorang Syiah, dia juga seorang yang lemah dalam riwayat-riwayatnya. Imam Nasa’i mengatakan bahawa dia tidak kuat. Daraqutni mengatakan hadisnya tidak boleh menjadi hujjah. Imam Abu Daud ada berkata, “Dia adalah seorang yang berfahaman Qadariah dan Mu’tazilah.” Imam Sulaiman At-Taimy, Hisyam bin Urwah, Yahya bin Said Al-Qatthan dan Imam Malik mengatakan dia seorang pendusta besar. Malah Imam Malik pernah berkata, “Dia seorang dajjal” (Mizanul I’tidal, Imam Zahabi, jilid 3, halaman 468 – 475). Ibnu Ishaq sendiri tidak menyebutkan sanad-sanad tempat ambilannya.

Pendapat yang sahih dan kuat bagi tarikh kelahiran Baginda ialah pada hari Isnin, 9hb Rabiul Awwal Tahun Gajah. Di antara ulama yang berpendapat sedemikian ialah Humaidi, Uqail, Yunus bin Yazid, Ibnu Abdillah, Ibnu Hazam, Muhammad bin Musa Al-Khuwarazmi, Abdul Khattab Ibnu Dihyah, Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qayyim, Ibnu Kathir, Ibnu Hajar dan Badruddin `Aini (Al-Bidayah wa An Nihayah, jilid 2 halaman 260-261)

Pendapat ini juga disokong oleh penyelidikan yang dibuat oleh seorang ahli falak yang terkenal iaitu Mahmud Pasya yang cuba menentukan tarikh gerhana matahari dan gerhana bulan yang berlaku semenjak zaman Nabi s.a.w. hingga ke zaman beliau. Berdasarkan kajian beliau, hari Isnin tidak mungkin bertepatan dengan 12hb. Rabiul Awwal mengikut perkiraan bagaimana sekalipun bahkan hari Isnin pada bulan berkenaan (Rabiul Awwal) jatuh pada 9 haribulan. Beliau mengemukakan beberapa alasan untuk menyokong hasil kajiannya. Antara alasan-alasan yang dikemukakan oleh Mahmud Pasya ialah:
· Dalam Sahih Bukhari disebut ketika anak Rasulullah saw iaitu Ibrahim wafat, telah berlaku gerhana matahari iaitu pada tahun ke 10 Hijrah dan Nabi Muhammad saw ketika itu berusia 63 tahun.

· Berdasarkan kaedah kiraan falak, diketahui bahawa gerhana matahari yang berlaku pada tahun 10H itu adalah bertepatan dengan 7hb. Januari 632M pukul 8.30 pagi.

· Berdasarkan kepada kiraan ini, sekiranya kita undurkan 63 tahun ke belakang mengikut tahun qamariah, maka kelahiran Nabi saw jatuh pada tahun 571M. Berdasarkan kira-kira yang telah dibuat beliau, 1hb. Rabiul Awwal menepati 12hb. April 571M.

· Perselisihan pendapat berlaku tentang tarikh kelahiran Nabi saw, walau bagaimanapun semua pihak telah sepakat mengatakan ia berlaku pada hari Isnin bulan Rabiul Awwal tersebut. Tetapi Mahmud Pasya mendapati hari Isnin jatuh pada 9hb. Rabiul Awwal bersamaan 20hb. April 571M. Ini menguatkan lagi pendapat ulama-ulama muktabar yang telah disebutkan di atas.

Di antara penulis sirah mutaakhir yang menyokong pendapat ini ialah Syeikh Muhammad Al Khudhori Bik di dalam “Nurul Yaqin” (hal. 6), Safiyyuul Rahman Al Mubarakpuri di dalam “Ar Rahiqul Makhtum” (halaman 54), `Allamah Sibli Nu’mani di dalam “Siratun Nabi” (jilid 1 hal. 176), Maulana Abdul Kalam Azad di dalam “Rasul Rahmat” (hal. 37) dan lain-lain.

Berhubung dengan tarikh wafat Nabi Muhammad s.a.w. pula, beberapa perkara yang telah diterima oleh ulamak hadis dan sirah perlu diletakkan di hadapan untuk menentukan tarikhnya iaitu:

· Tahun kewafatan Baginda s.a.w. ialah 11H

· Dalam bulan Rabiul Awwal

· Antara 1hb. Hingga 12hb.

· Hari Isnin (Sahih Muslim, jld. 8 hal. 51-52)

· Hari wuquf di Arafah dalam Haji Wada’ pada 9 Zulhijjah tahun ke 10H jatuh pada hari Jumaat. (Tafsir Al Quraanul ‘Adzim, Ibnu Katsir, jld. 2, hal. 15, Sahih Al Bukhari, Sahih Muslim, dll).

· Daripada hari itu (wuquf) sampai kepada hari wafatnya Nabi Muhammad SAW adalah 81 hari. (Tafsir Al Quraanul ‘Adzim, Ibnu Katsir, jld. 2 hal. 15, At Tafsir Al Kabir, Fakhrul Razi, j.11 hal. 139, Tafsir Baghawi, Fathul Bari).

Berdasarkan kepada beberapa perkara yang telah diterima oleh para ulama tadi, maka boleh diandaikan tarikh kewafatan Baginda s.a.w. seperti berikut:

o Diandaikan ketiga-tiga bulan Zulhijjah, Muharram dan Safar mempunyai 30 hari (walaupun tidak pernah berlaku begitu tetapi diandaikan mungkin juga berlaku) maka hari Isnin menepati 6 atau 13hb. Rabiul Awwal.

o Jika diandaikan ketiga-tiga bulan Zulhijjah, Muharram dan Safar mempunyai 29 hari (walaupun ini juga tidak pernah berlaku) maka hari Isnin menepati 2,9 atau 16hb. Rabiul Awwal.

Selain daripada dua andaian tersebut itu, terdapat enam andaian lagi seperti yang terdapat dalam jadual berikut:

Jumlah hari bagi bulan Tarikh Hari Isnin dalam bulan R/Awwal

Zulhijjah (30) Muharram (29) Safar (29) 1 8 15

Zulhijjah (29) Muharram (30) Safar (29) 1 8 15

Zulhijjah (29) Muharram (29) Safar (30) 1 8 15

Zulhijjah (30) Muharram (29) Safar (30) 7 14 21

Zulhijjah (30) Muharram (30) Safar (29) 7 14 21

Zulhijjah (29) Muharram (30) Safar (30) 7 14 21

Daripada tarikh-tarikh yang diandaikan tadi; 6, 7, 8, 9, 13, 14, 15 dan 16hb. Rabiul Awwal tidak dapat diterima kerana selain daripada alasan-alasan yang tersebut tadi, tidak ada satupun riwayat yang menyokongnya. Berkenaan dengan 2hb. pula , selain daripada tidak mungkin terjadinya ketiga-tiga bulan Zulhijjah, Muharram dan Safar terdiri daripada 30 hari di dalam kesemuanya, tidak ada juga riwayat yang sahih mengenainya. Apa yang ada hanyalah riwayat Hisyam bin Muhammad Al Kalbi dan Abu Mikhnaf yang dianggap sebagai pendusta oleh ulama-ulama hadis.

Berhubung dengan 1hb. pula, ia adalah daripada riwayat tokoh utama sirah iaitu Musa bin Uqbah dan ulama hadis yang terkenal Imam Laith bin Saad, Abu Nua’im Fadhal bin Dukain dan lain-lain. Pendapat ini juga disokong oleh Imam Suhaili dan Al Khuwarazmi. (Fathul Bari, Jilid 16. hal. 206, “Ar Raudhul Unuf,” jilid 7, hal. 579). Daripada kenyataan-kenyataan yang disebut di atas, tarikh yang lebih tepat bagi kewafatan Nabi S.A.W. ialah pada hari Isnin 1hb. Rabiul Awwal tahun 11H bersamaan dengan 25hb. Mei 632M.

Berdasarkan kepada fakta-fakta yang telah kami kemukakan pihak kami berharap agar masyarakat menilai semula tarikh sebenar kelahiran nabi s.a.w. dan tidak merayakan suatu hari yang kononnya hari kelahiran Nabi s.a.w. padahal ia bukanlah harinya yang sebenar.

(Dipetik dari Siri Risalah Suluhan terbitan Darul Quran Was Sunnah dengan sedikit pindaan)

Sumber : Darulkautsar.net